Pages

Monday, March 5, 2012

Pengaruh Sastra Arab terhadap Andalusia dan Barat



Muqoddimah
Allah Taâla telah memberikan pengkhususan terhadap tanah Andalus berupa ladang yang hijau, perairan yang sejuk, makanan yang lezat, empuknya daging, manisnya buah-buahan, air yang melimpah ruah, udara yang sejuk, orang-orang yang berkulit putih, dan kemahiran masyarakatnya dalam arsituktur serta pembangunan. Juga Andalus terkenal dengan benteng-benteng yang mengitarinya serta pabrik-pabrik yang baesar, terdapat pula disana daratan dan lautan dan tempat yang landai dan pertebingan. Demikian apa yang ditulis oleh Al maqqary mengenai sifat dan keadaan daerah ini. Daerah yang pernah menjadi pusat peradaban Islam barat, selama delapan abad lamanya, hingga runtuhnya ke tangan orang-orang Nasrani Sepanyol. Sebelum kedatangan uamat Islam bernama Iberia kemudian bernama Andalusia.
Pada dasarnya Andalusia hanya dinisbatkan kepada bagian selatan jazirah saja, namun lama-kelamaan berkembang meliputi seluruh jazirah. Juga tak dapat dipungkiri bahwa Andalusia dan kemajuan sastranya telah banyak memberikan kontribusi besar bagi kesustraan Arab dan Islam secara umum, begitupula terhadap Barat. Dimana terjadi intraksi social dan pemikiran antara umat Islam dan Nasrani, yang akhirnya banyak memberikan pencerahan bagi mereka. Sampai sekarang pun masih dapat kita lihat dan kita saksikan bekas-bekas kejayaan Islam baik dari adat istiadat, tingkah laku juga sejumlah bentuk ungkapan bahasa. Dan dapat kita saksikan pula berbagai macam karya sastra yang terpengaruh oleh sastra Arab, seperti terpengaruh oleh buku maqâmât Al Harîri. Contoh dari karya orang barat antara lain adalah Komedi Ilahiah buah karya Dante. Banyak ulama berpendapat bahwa buku tersebut mengambil fikroh dari buku karangan satrawan serta filosouf Islam Al-Maa’rry kendati mendapat sangakalan serta bantahan dari sejumlah besar kaum orientalis. Begitu pula dengan kisah Robinson Kross hasil karya Danial Divo penulis Inggris tahun 1660-1731, karya ini sangat sama sekali dengan kisahnya Hay bin Yaqzan hasil karya Ibnu Thufail yang hidup beberapa abad sebelumnya, sastrawan Islam yang mengkombinasiakan sastranya dengan filsafat, dikarenakan pada zaman tersebut filsafat telah masuk ke tanah Andalus.
Pada makalah sederhana ini penulis ingin menuliskan sedikit ma’lumat mengenai sastra Islam di Andalus, serta pengaruh-pengaruh yang di timbulkannya terhadap negeri tersebut, baik secara materi dan ma’nawi, untuk mengingatkan kita kembali kepada jasa leluhur yang telah banyak memberikan kontribusi, baik itu berupa manuskrip-manuskrip atau peradaban yang harus kita jaga dan kita wariskan kepada anak cucu kiita kelak.Contoh kongkritnya saja buku Bidayayatu Al Mujtahid karangan Ibnu Rusyd, Alfiyatu ibni Mâlik, juga buku sastra terkenal Al A’qdu Al Farîdh
Sekelumit Tentang Sastra Andalus
Ada beberapa aspek penunjang yang banyak mempengaruhi kaemajuan sastra Andalus. Pertama, keindahan Alam raya Andalusia, juga cuaca dan udaranya yang sejuk, tanah serta tamannya yang hijau. Hal ini sangat banyak sekali memberikan pengaruh terhadap peradaban daratan Andalus. Ada sebuah ungkapan menarik ketika Musa ibnu Said diajak oleh teman-temannya untuk meninggalkan tempat ini menuju Magrib. Dia berkata,” Bagaimana saya akan meninggalkan daerah ini, sedangkan engkau mengetahui bahwa tempat ini adalah surga dunia dimana Tuhan telah memberikan kepadanya cuaca yang stabil, air yang jernih, begitu pula orang-orangnya sangat menyejukkan kalbu, bersahabat dengan kelembutan alam, serta kicauan burung-burung yang merdu. Pradaban serta alam yang demikian sangat banyak sekali pengaruhnya terhadap sastra Arab di Andalusia, maka terjadilah perubahan corak sastra yang mana sebelumnya menampilkan sifat-sifat padang pasir yang panas dan keras menjadi sastra yang lembut, penuh dengan ungkapan-ungkapan alam mereka, bukan saja pada syair akan tetapi terjadi juga paada prosa, maka tergabunglah menjadi satu antara kelembutan sastra dengan indahnya bahasa Arab yang tak jarang diungkapkan secara metaphor oleh penyair serta sastrawan Islam. Kedua, Matangnya pola pikir Arab. Telah datang silih berganti ke tanah Andalusia berbagai macam bangsa. Pada mulanya diperintah oleh bangsaYunani, Romawi, kemudian Qûth,dan akhirnya datang bangsa Arab sehingga beradaptasi dan bercampur baur dengan penduduk asli. Dari sanalah muncul genersi baru yang mempunyai sifat kearaban dan pola pikir Aria. Ketiga, adanya rasa persaingan dengan timur. Rasa bersaing sedemikianlah yang membuat perkembangan pesat di dalam sastra Andalusia sehingga dapat mempengaruhi keproduktifan penulis-penulis Andalus, juga pesatnya karya-karya sastra. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa di Andalus ketika itu terdapat tujuh puluh perpustakaan, terdiri dari empat ratus ribu buku. Banyak diantara ulama Andalus yang pergi ke timur untuk menimba ilmu dan mencari buku, dan sebaliknya ulama timur datang ke Andalus untuk mencari tempat dan penghargaan dari kholifah. Jarak yang jauh antara Bagdad dan Qordoba tidak menjadi penghalang bagi safari mereka dalam mencari dan mendalami ilmu pengetahuan. Tak ayal lagi kalau terjadi persaingan ketat antara barat dan timur pada waktu itu dalam pengkodifikasian karya serta penulisan ilmu pengetahuan, walaupun ada kecendrungan ulama Andalusia dalam mencontoh karya-karya ulama timur. Contohnya Ibnu Abdi robbih menulis buku berjudul Al Aqdu Al Farîd yang banyak mencontoh Ibnu Qutaybah pada bukunya Uyûnu Al Akhbâr, Ibnu Bassâm dalam bukunya Al Zakhîrah banyak mengutip dan mencontoh karangan Al Tsaâ’labi dalam bukunya Yatimatu Al Dahri dan seterusnya. Begitu pula hal nya dengan syair-syair, mereka banyak mentransfer dari timur. Kendati demikian mereka tidak menghilangkan identitas serta cirri-ciri khas kesusutraan mereka sehingga apabila dihadapkan pada hasil-hasil karya Andalusia kita akan melihat corak-corak khusus yang ada pada karya-karya tersebut, menunjukkan bahwa banyak penambahan serta pembaharuan yang dihasilkan oleh ulama-ulama Andalusia terhadap karya timur. Dan akhirnya menimbulkan gaya karya baru setelah karya timur, yaitu Arab Andalusia. Salah satu contohnya adalah Ibnu Abdi Rabbih menampilkan pada Al Aqdu Al Farîd beberapa contoh buah karya Abu Tammâm dan penyair-penyair besar lainnya. Kemudian setelah itu beliau menulis syair, sebagai buah karyanya sendiri dalam judul yang sama. Tak lupa pula ia menerangkan kemampuannya sebagai penyair Andalusia, dan dengan karyanya tersebut memberikan indikasi keahlian serta kelebihanya di antara ulama-ulama yang lain. Keempat, Pengaruh identitas kebudayaan yang lazim di negeri mereka.
Walaupun orang-orang Andalusia banyak terpengaruh oleh pola pikir timur, bukan berarti terpengaruh oleh kebudayaan serta filsafat yang cenderung digandrungi oleh timur. Pada zaman-zaman keemasan Anadalusia mereka lebih condong kepada corak peradaban Islam Arab murni. Dan masih menolak filsafat, juga memusuhi orang yang menggeluti hal tersebut, sampai-sampai menuduhnya sebagai Zindiq, maka dari itu sastra Andalusia tidak mempunyai komposisi filsafat sebagaimana di timur.
Dan rasanya perlu disebutkan bahwa filsafat baru bisa masuk ke Andalus pada abad-abad terakhir kejayaan Islam. Diantara tokoh-tokohnya adalah Ibnu Bâjah, Ibnu Rusyd, Ibnu Thufail, mereka pun sangat inten dan perhatian terhadap bidang ilmu ini. Akan tetapi kematangan filsafat belum banyak memberi pengaruh yang luas di dalam sastra Andalusia, karena keterlambatan kemunculanya di Andalus.
Sya’ir Tentang Alam Al- Thobîah
Sya’ir thobîah adalah syai’r yang menggambarkan keadaan alam secara shômit dan Shôit, hal tersebut timbul dari perasaan sang penyair melalui khayal serta intuisi sang penyair. Penyair-penyair Arab banyak sekali yang menjadikan alam sebagai inspirator baginya sesuai dengan zaman dimana ia hidup. Penyair Jahili menggambarkan tentang puing-puing dan reruntuhan istana dan bangunan mereka, padang pasir, hujan dan petir, sebagaimana juga mereka menggambarkan tentang onta, kuda, dll. Dan perlu diingat bahwa lingkungan jahiliah adalah lingkungan nomadenisme badawiyyah.
Dan ketika orang-orang Arab hijrah dari lingkungan nomaden ke lingkungan yang maju dan bersifat tetap hadhôroh mualailah mereka mengenal kemewahan dan kemegahan istana, keindahan taman, serta tumbuh-tumbuhan yang menghijau, maka berkembanglah sya’ir thobîah. Salah satu contohnya adalah penyair-penyair Abbasiah, mereka sering sekali memunculkan syair yang mengandung keindahan alam, walaupun tidak sepenuhnya, dan masih memadukannya dengan bentuk-bentuk lain dari sastra, seperti percintaan, pujian, serta khamr.
Yang penulis sebutkan tadi adalah syai’r thobîah di negeri timur, bagaimana keadaannya dengan syai’r thobîah di negeri Andalus. Telah berkembang pesat bentuk serta corak ini di negeri Andalusia. Tentu saja banyak factor yang mendukung hal tersebut, muingkin dapat kita sebutkan disini.1. Keindahan alam. Pada muqoddimah makalah ini telah penulis ungkapkan bahwa Andalusia adalah daerah yang indah dan mempesona, hal ini sangat berpengaruh sekali terhadap watak, sikap serta karya-karya sastra, contohnya syair atau puisi. Disamping jiwa penyai’r bangsa tersebut yang juga menjadi penyebab majunya syai’r thobîah di daerah tersebut. 2. Kecintaan bangsa tersebut terhadap negeri mereka. Sebagimana kita ketahui jikalau seseorang telah mencintai sesuatu maka akan banyak ungkapan serta ta’bir yang keluar dari perasaanya, betapa tidak bangsa yang mempunyai bahasa Arab kemudian berpadu dengan kecintaannya kepada negerinya. Ibnu Said Al- Andalusi pernah menyebutkan tentang negerinya dalam syai’r-syai’r dan buku sastra karangannya, kemudian membandingkanya dengan negeri timur serta barat lainnya. Kemudian pada kulminasi tulisannya mengatakan,”Sungguh negeri Andalus adalah negeri yang sangat indah. Tak lupa pula kita sebutkan bahwa bentuk-bentuk sastranya banyak menyerupai timur,dan juga sering mengkombinasilan alam dengan perkataan-unik. Sedangkan kombinasi antara alam dan percintaan ghozal, dapat kita temukan pada syai’rnya Ibnu Zaidun, ketika ia mngirimkan syair kepada kekasihnya di Istana, sedang ia di tempat yang jauh tak seorangpun mengetahuinya. Dimana ia merasa asing setelah mendapatkan tuduhan serta hukuman penjara, yang sangat tidak berdasarkan sekali.
Sebuah Bukti atas Transformasi Sastra dan Pradaban
pada bagian ini penulis akan memberikan beberapa bukti transformasi budaya dan sastra di negeri Andalusia. Sebagai telaah bagi kita, bahwa Andalusia pernah berjaya dengan sastra dan kebudayaan Islam. Pada dasarnya hubungan antara sastra, budaya sepanyol dan Prancis terjadi pada abad pertengahan, ketika peradaban Prancis selatan mulai menjadi megah dan besar, tepatanya di Provence. Dari sanalah muncul kelompok penyair pengembara Troubadrous salah seorang tokohnya adalah Ruy Diaz de Biver, seorang tokoh perlawanan terhadap masyarakat Islam. Dan memang harus diakui bahwa pada abad pertengahan tersebut, sastra serta peradaban barat mulai terlihat geliatnya. Contohnya saja seorang raja Sepoanyol bernama Al- Fonso mempunyai julukan Al- Âlim., julukan atersebut diberikan karena dia selalu menghunus pedang untuk berperang melawan musuh-musuhnya, namun di lain waktu dia memegang bukunya, mendalami ilmu-ilmu pengetahuan, serta menulis karya-karya sastra.
I. Al- Musta’ribûn
Pada dasarnya karya sastra yang dihasilkan oleh kaum Al-Musta’ribûn sangatlah lemah, baik berbahasa latin maupun Arab, kemudian mereka pun mulai terpengaruh oleh kehidupan social Islam yang memberi pencerahan bagi mereka. Salah satu contohnya adalah mereka lebih mengutamakan penggunaan bahasa Arab,juga nama-nama dan pakaian mereka serta berusaha mencontoh peradaban Isalam dalam aspek-aspek kehidupan mereka. Albero Al Qortubi seorang ilmuan sepanyol,pernah memberikan pendapat, tak ada bantahan terhadapnya dan masih sering dikutip oleh banyak pengarang dan penuis barat maupun timur. Dia memberikan kesaksian bahwa orang Nasrani Sepanyol mempunyai kecendrungan yang sangat besar terhadap sastra Arab dalam sebuah ungkapan mereka berkata,” Sesungguhnya saudara-saudara ku seagama menemukan kenyamanan dan sesuatu keindahan ketika membaca syair-syair Orang Arab, dan hikayat kehidupan mereka. Pun mereka berbondong-bondong mempelajari mazhab-mazhab ahli agama, filosouf -filosouf muslim, bukan untuk mengkonternya akan tetapi mencoba mengambil uslub-uslub Arab yang indah dan benar.
Kebanyakan dari buku-buku latin yang ditulis oleh kaum Al- Musta’rbûn mempunyai catatan-catatan kaki, komentar dengan bahasa Arab, seperti buku latin berjudul ‘kitâbu tafshîli al azmân wa mashôlihi al abdân’ buku tentang ilmu falaq “menjelaskan masalah peredaran bulan, serta menyebutkan keindahannya. Pada dasarnya, ketika zaman keemasan Islam orang-orang sepanyol lebih cakap berbahasa Arab ketimbang bahasa asli mereka, sampai-sampai menyerupai orang Arab dalam kemahiran berbahasa, tak dapat dipungkiri pula bahwa mereka telah memakai bahasa Arab sekian waktu lamanya, yaitu setelah runtuhnya kekuasaan Islam di Jazirah tersebut. Banyak adat-istiadat culture arab yang disadur ke dalam lini kehidupan bangsa sepanyol, sampai kepada penulisan buku-buku dan pemakaian nama-nama Arab, hingga abad keempat belas masehi, bukti-bukti ini masih dapat kita temukan pada dokumentasi-dokumentasi Toledo walaupun tak kita dapatkan hasil karya yang berharga dari mereka.
II. Al-Musta’jimûn
Akhir dari pada bentuk sastra Arab Andalus yang muncul di sepanyol adalah sastra Los Moriscos yaitu sastra yang ditulis dengan bahasa Sepanyol, namun memakai huruf-huruf Arab. Orang Arab menyebutnya Al-Jamîya ” kalimat Arab yang disepanyolkan” kenapa demikian, karena keadaan lah yang memaksa. Kaum Moriscos merasa takut dan khawatir setelah jatuhnya Granada ke tangan orang-orang Nasrani, apalagi ketika mereka dihadapkan kepada kasus-kasus pengkafiran dan pemurtadan, hal demikianlah yang membuat keterputusan mereka dengan khazanah-khozanah sastra dan pemkiran leluhur. Namun mereka tidak meninggalkan huruf-huruf hijâiyyah
Dan terus menulis ilmu-ilmu Islam serta warisan leluhur sebagai resistensi serta benteng yang kokoh bagi akidah mereka, untuk kemudian mewariskannya kepada generasi setelahnya. Semua apa yang dapat kita lihat dari bukti-bukti sejarah,bahwa tulisan-tulisan tersebut berasaskan Islam dan belum dpat dipelajari rahasia rumus-rumusnya kecualai pada abad ke sembilan belas masehi.
Ketika orang sepanyol hendak melaksanakan pengusiran besar-besaran terhadap sisa-sisa umat Islam dari negeri mereka, maka kaum Moriscos mencoba untuk menyembunyikan tulisan-tulisan atersebut. Dan memunculkannya kembali secara pelan-pelan. Salah satu penulis besarnya adalah Isa ibnu Jabir seorang faqih masjid Segoviano dalam bahasa sepanyol dikenal denagan nama Isa de Gebir, Ia menulis buku berjudul Al kitâb Al Syaqûbi, di bawah namanya tertulis dengan huruf Arab breviario sunni atau dalam bahasa Arabnya mukhtashar al sunnah. Yaitu tulisan singkat tentang akhlaq dan syariah, buku ini banyak sekali beredar di kalangan Moriscos, dan terdiri dari bab-bab iman, aqidah kemudian wudhu, thoharaoh, air yang suci dan tidak suci. Beliau memakai istilah-istilah ibadah dalam Islam dengan logat Qostilla seperti arraquer atau al rukû’- anafilesa tau al nawâfîl, menjamakannya dengan jama Qostilla.
Syair Moriscos
Tak luput dari karya mereka adalah seni syai’r yang ditulis dengan bahasa Qostilla, akan tetapi berhurfkan huruf Arab. Contohnya adalah qoshidah Yusuf ditulis pada abad ke tiga belas dan empat belas masehi. Syair ini memakai bahasa Qostilla lama yang dikenal dengan Cuarderno Via, yaitu qoshidah yang setiap empat baitnya dalam satu qâfiyah. Isinya tentang kisah Nabi Yusuf AS dan Ya’Qûb AS, sebagaimana diterangkan di dalam Al-Quran mengenai kisah ini, walaupun banyak juga Isrâiliyyatnya. Contoh lain adalah karya-karya penyair besar Muhammad Romadhon yang berasal dari Rauthoh, ditulis pada tahun seribu enam ratus tiga dengan syair sepanyol berjudul Târîkhu nasabi Muhammad SAW Historia genealogica de Mohama. Begitu pula Nazom qisshoh fazi’ yaumi al hisâb historia del espanto del dia del juicio
III. Pendapat Juan Andreas
Juan Andreas seorang tokoh Nasrani Yasûi’ yang dikeluarkan dari kelompok ini kemudian diusir dari sepanyol telah mentransfer bekas kejayaan Andalus Arab kepada kebudayaan Eropa, sebagai pencerahan atasnya, walaupun sangat minim , dikarenakan sedikitnya marâji’ kecuali fihris latin buku-buku klasik Arab Makhthûthât di perpustakaan Iskareal yang ditulis oleh Mikhâil al ghosîrî. Dari maraji’ inilah Juan Andreas menulis buku yang sedikit aneh dengan bahasa Italia antara tahun seribu tujuh ratus delapan dua dan seribu tujuh ratus sembilan puluh delapan berjudul Asal-usul Sastra Secara Umum serta Keadaan dan Perkembangannya diterjemahkan ke dalam bahasa Sepanyol antara tahun 1784-1806, salah satu stressing poin dari buku itu adalah’bahwa sesungguhnya timbulnya pergerakan studi tentang kedokteran adalah kembali kepada jasa bangsa Arab, dimana bangsa barat ketika itu masih terbagi menjadi dua bagian, sebagian berpacu menyusun peradaban sedangkan yang lain masih dalam keterbelakanagan.
Kemudian dia juga menyebutkan hasil-hasil terjemahan bangsa Arab dari peninggalan serta buku-buku India, fersi, Mesir, Yunani di samping pengaruh besar yang membias kepada gerakan eskolarialisasi escurialtion dari buku yang ditransfer ke bahasa latin.
Sedangkan pengaruh Arab terhadap sepanyol secara khusus, beliau mengatakan bahwa masyarakat sepanyol telah memakai dua bahasa, pertama, Bahasa Arab, kedua, Bahasa Sepanyol. Sebagaimana diungkapkan oleh Alberto Qurtubi. Dia juga menyebutkan bahwa pada awal mulanya syair Sepanyol banyak mengikuti syair Arab secara corak maupun ma’na, dan itu merupakan sebuah kelaziman sebagai akibat dari pergumulan dua bangsa, Arab dan Sepanyol, yang menciptakan pengaruh interaktif antara keduanya Al tatsîr wa al taatsur tergantung kuat dan majunya peradaban masing-masing. Hal demikianlah yang membuat transformasi sastra dari sepanyol hingga Provence, juga tak dapat dilupakan penyebabnya yang lain yaitu hubungan orang Sepanyol dengan orang Prancis, dan pengembaraan para penyair yang dikenal dengan klompok Tro Badro sehingga muncul syair Provence yang merujuk kepada syair-syair Arab. Dalam ungkapan Juan Andreas juga dikatakan,” Sesungguhnya syair-syair Provence ini kebanyakan dinisbatkan kepada kaum Arab ketimbang orang-orang Yunani dan Latin, dikarenakan pengetahuan mereka tentang Yunani dan Latin masih sangat minim, tidak seperti pengetahuan mereka tentang literature Arab.
Referensi;
Nafhu Al- Thoyyib min Ghushni Al- Andalusi Al Rathîb. Syihâbuddin Al- Tilmisânî. Ct.Dâru Al-Shâdir Bairût. Tahun. 1968. Juz.I..Hal. 125-126.
Al-Adabu Al- Andalusi Mina Al- Fathi Ilâ suqûthi Al- Khilâfah. DR. Muhammad Haikal. Hal : 21
Daulatu Al- Andalus. Abdullah AL- Anân . Ct. Maktabatu Al Usrah. Juz. 8. Hal : 438-439
Al- Adab Al- Muqârin. DR. Toha Ashar.Ct. Dâru Al- Kutub Al-Mishryyah.Th. 2003. Hal : 124-125
Muhâdarât fî Târîkhi Al-Adab Al- Andalusi. Al- Ustâdz Al- Syyid Ibrâhîm Al- Dud. Ct. Al- Jereisi. Hal : 14-15 Al- A’qdu Al- Farîdh. Al- Tsaâ’laby. Juz. 3. Hal : 137-138
Al- Adab Al- Andalusi. DR. Hasan Jâd,dan DR. Khofâjî. Hal : 8

ANALISIS NOVEL SALAH ASUHAN DENGAN PENDEKATAN TEORI POSTKOLONIALISME

 
1.        Sinopsis
Novel “Salah Asuhan” pertama kali diterbitkan Balai Pustaka  pada tahun 1928. Itu artinya novel ini ditulis pada masa penjajahan Belanda. Pramoedya Ananta Toer mengawali ceritanya dengan obrolan seorang wanita Indo-Perancis, hasil perkawinan pria Eropa dengan wanita Bumiputera, bersama seorang pemuda asli pribumi Minangkabau yang meniru semua gaya hidup Eropa. Sejak kecil ia dididik dan diasuh ibunya dengan gaya Eropa atas keinginan anaknya. Mereka berdua telah bersahabat sejak lama dan benih-benih cinta di antara keduanya telah tumbuh. Pemuda pribumi yang bernama Hanafi di sela-sela obrolannya sangat merendahkan  kaumnya sendiri dari kalangan pribumi dan memuji-muji gaya Eropa. Sedangkan wanita Indo yang bernama Corrie de Bussie, walaupun ia mendapat kehormatan dari sejak lahir sebagai keluarga orang Eropa, tidak menyetujui sikap Hanafi yang selalu membanding-bandingkan adat dan budaya Eropa dengan pribumi.
Hubungan cinta mereka tersendat-sendat di tengah jalan karena ayah Corrie yang bernama du Bussee, kurang senang jika mereka berdua meneruskan hubungannya ke pelaminan. Ia mengetahui dengan sangat pasti bahwa wanita Eropa yang mengikat tali kekeluargaan dengan pria pribumi, semua hak-haknya sebagai Eropa telah dicabut bahkan dianggapnya telah menghinakan diri sendiri. Oleh karena itu, sebagai rasa sayang sang ayah kepada sangat anak, ia menasehati Corrie agar mengambil keputusan yang tepat, meskipun ia sendiri tidak setuju dengan pandangan orang Eropa umumnya, untuk tidak meneruskan hubungannya dengan Hanafi. Pada awalnya Corrie merasa keberatan bahkan salah tingkah saat berusaha keras menghilangkan rasa cintanya kepada Hanafi. Namun, walaupun pada awalnya tidak tega mengorbankan cintanya, Corrie berhasil berterus terang kepada Hanafi agar menghentikan hubungan di antara mereka. Ia mengirimkan surat kepada Hanafi yang memberitahukannya efek negatif perkawinan campuran.
Hanafi sangat terpukul dengan sikap Corrie. Ditambah lagi keinginan ibunya agar anaknya menikah dengan Rapiah, puteri Sutan Batuah, sebagai bentuk balas budi atas kebaikannya menyisihkan sebagian hartanya untuk membiayai sekolah Hanafi. Meskipun pada awalnya menolak, ia menikah dengan Rapiah tanpa disertai rasa cinta sebagai seorang kekasih. Pernikahannya hampir gagal karena pemberontakan Hanafi terhadap adat istiadat Minangkabau saat melakukan pernikahan dan keinginannya untuk lebih menonjolkan gaya Eropa. Berompi,
Pernikahan mereka tidak membuat Hanafi tenang bahkan menambah dia gusar sehingga menganggap istrinya sebagai pembantu saja yang harus memenuhi semua keinginan majikan. Amarah terhadap istri bertambah-tambah saat mengetahui hanya sedikit orang Eropa yang mengunjunginya. Hal ini membuat Hanafi berkeinginan untuk bertemu dengan Corrie yang sedang berada di Betawi. Dengan alasan berobat karena digigit anjing gila, ia berangkat ke Betawi dan bertemu dengan Corrie pada sebuah insiden kecelakaan dan Hanafi menjadi penolongnya. Keduanya sama-sama bergembira lalu melangsungkan pernikahan dan menceraikan Rapiah di Solok setelah resmi pindah rumah ke Betawi dan mengurus persamaan hak sebagai bangsa Eropa . Namun, hubungan mereka tidak bertahan lama setelah menerima sikap negatif dari teman-teman mereka berdua. Hanafi dianggap tidak menghargai bangsanya sendiri, sedangkan Corrie telah menjauhkan diri dari pergaulan  dan kehidupan barat. Efek negatif respon yang mereka terima di luar berimbas pada hubungan rumah tangga mereka. Hanafi menjadi bersifat kasar sendangka Corrie pendiam. Puncaknya, sikap cemburu buta Hanafi terhadap Corrie yang sering dikunjungi seorang mucikari Tante Lien dan dianggap melakukan serong sehingga membuat istrinya sakit hati dan meminta cerai seumur hidup lalu Corrie pergi menuju Semarang dan bekerja di panti asuhan. Ia meninggal di sana disebabkan penyakit kolera yang dideritanya saat Hanafi ingin kembali rujuk .
Berita kematian Corrie, ingat kepada istri, Syafe’i anaknya, dan sang ibu di Solok, dan teman-temannya yang semakin menjauhi membuat Hanafi sangat terpukul sehingga setiap harinya ia hanya termenung. Ia mulai menyadari semua kesalahannya yang tidak bijak dalam memiliki harta paling berharga di dunia, yaitu istri. Wanita Minangkabau yang ia nikahi dengan terpaksa, jika diamati lebih jauh akan membuatnya terkagum-kagum dan menambah cintanya. Namun ia mengabaikannya. Sedangkan, wanita yang sejak awal bertemu telah membuatnya jatuh hati, tidak dijaga dengan baik dan akhirnya hilang selama-lamanya. Kesedihan Hanafi semakin memuncak dan pada akhirnya ia memutuskan untuk bunuh diri dengan minum cairan kimia. Ia meninggal dunia dengan sangat menggenaskan.
2.        Analisis Novel Salah Asuhan dengan Pendekatan Teori Postkolonialisme
Novel diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1928 di masa penjajahan Belanda. Tentunya, kondisi sosial masyarakat, politik, ekonomi, dan bidang-bidang lainnya tidak akan terlepas dari pengaruh penjajah. Novel ini menghadirkan begitu banyak fakta pengaruh Eropa dalam hal ini Belanda terhadap karakter budaya negara Indonesia sebagai negara terjajah. Di awal cerita, Pramoedya Ananta Toer menghadirkan sosok pemuda pribumi yang tergila-gila dengan budaya Barat. Disebut tergila-gila karena ia sendiri buta terhadap kebudayaannya sendiri sebagai seorang pribumi bahkan berani merendahkannya. Corrie sebagai seorang wanita blasteran pria Perancis-wanita Indonesia sehingga dengan sendirinya ia memiliki kehormatan sebagai orang Eropa, mengkritik sikap Hanafi yang membanding-bandingkan budaya Eropa dengan Pribumi bahkan ia lebih mengetahui budaya pribumi daripada Hanafi sendiri sebagai orang bumiputera. Hanafi mengkritik norma-norma yang berlaku di kalangan pribumi seperti hubungan antara seorang gadis dengan bujang. Ia lebih suka gaya Eropa yang tidak mempermasalahkan hal tersebut. Bahkan ia selalu mengantar Corrie pulang. Ia merasa gusar saat Corrie merasa tidak enak berduaan dengan Hanafi di depan umum. Lebih parahnya lagi, kaum pribumi yang tidak mampu berbahasa Belanda selain ibunya tidak masuk bilangan. Ditambah lagi, sikapnya yang terlalu berlebih-lebihan dalam bergaya hidup Eropa, membuatnya anti terhadap kebudayaan Melayu yang kental dengan jaran ke-Islaman sehingga pada puncaknya ia menganggap agam Islam sebagai takhayul yang membuatnya terkucilkan. Di depan Belanda, ia merendahkan bahkan cenderung melenyapkan negerinya sendiri, Minagkabau, dalam pernyataannya, “Seindah-indahnya negeri ini, jika tak ada ibuku, niscaya sudah lamalah kutinggalkan”.
Namun, jika ditinjau lebih jauh, pandangan negatif Barat terhadap Melayu cukup beralasan karena melihat kondisi masyarakatnya yang kampungan, berbadan kotor, berpakaian tidak layak dan kotor, serta tidak berpendidikan. Bahkan ini merupakan jawaban dari seorang anak kecil, Syafe’i di atas pangkuan ibunya, Rapiah, saat ditanya tentang siapakah orang  Melayu itu?
Oleh Corrie dijelaskan adat kesopanan pribumi mengenai hubungan antara seorang gadis dan bujang yang sangat terbatas dan dianggap tabu. Seorang gadis tidak boleh berhubungan langsung dengan kaum lelaki di depan umum. Jika hal tersebut dilanggarnya, maka orang-orang akan menganggapnya janggal. Berbeda dengan budaya Eropa yang menganggap hubungan yang erat antara seorang gadis dengan seorang bujang sebagai bentuk tunangan yang nantinya berujung pernikahan yang indah.
Hanafi yang sepenuhnya mengikuti budaya Eropa menegur Corrie yang masih memperhatikan norma-norma adat Minangkabau sehingga saat Corrie mengkritik sikapnya yang dikhawatirkan melanggar adat, Hanafi langsung menyerang balik dengan menghadirkan fakta-fakta budaya Eropa yang menunjukkan batasan undang-undang kesopanan yang gelap karena tidak tertulis.
Hubungan cinta antara Hanafi dengan Corrie ditafsirkan lain oleh Hanafi karena ia kini sudah bukan lagi sebagai “inlander”.  Namun, sikap Corrie terhadap Hanafi ibarat pepatah “gayung bersambut kata berjawab” saat mengetahui Corrie ingin menjaga jarak darinya karena dikhawatirkan terjadi pernikahan campuran yang tidak dikehendakinya.
Pandangan buta Hanafi terhadap budaya pribumi telah membuatnya lebih agresif dalam mengkritik dan menghina budaya lokal dibanding sahabatnya sekaligus kekasihnya, Corrie. Bahkan Corrrie mengakui jika penghinaan terhadap bumiputera lebih banyak keluar dari mulut Hanafi. Corrie yang sangat bijak dalam menyikapi perbedaan budaya dan menasehati Hanafi agar menghargai perbedaan yang ada, tidak membuat rasa gengsi Hanafi surut. Bahkan di akhir percakapan, Hanafi geram terhadap Corrie dan menanyainya seputar penyebab Corrie sudi bergaul dengannya.
Dalam percakapan pertama di antara kedua pemuda dan pemudi ini dapat diambil pelajaran bahwa Eropa dan bumiputera memiliki budayanya masing-masing yang tidak perlu dipertentangkan, namun harus disikapi dengan sikap saling menghargai satu sama lain. Perasaan sebagai bagian dari pribumi yang sangat mengakar kuat dalam diri Corrie tidak akan membuatnya dengan begitu mudah mengikuti budaya Eropa yang dianggapnya memang lebih menyenangkan daripada budaya lokal yang sangat mengekang bahkan merendahkan kaum wanita saat terlihat berduaan dengan lain jenis meskipun bersama sanak saudaranya. Tentunya sangat kontras jika dibandingkan dengan Hanafi yang menginginkan dirinya diakui sebagai bagian dari Eropa.
Hanafi adalah seorang pribumi asli Minangkabau. Ia merupakan anak tunggal sebagai tumpuan harapan keluarga sehingga ia disekolahkan oleh sanak keluarganya di sekolah-sekolah Eropa di Jakarta agar menjadi anak yang pandai dan melebihi keluarganya di kampung. Mereka berjuang mati-matian agar Hanafi bisa berpendidikan tinggi. Namun, pengawasan orang tua dan sanak keluarganya melupakan satu hal penting dalam diri Hanafi, yaitu kesadaran sebagai  seorang pribumi yang berbeda budaya dengan Barat. Rasa bangga yang menghinggapi Hanafi saat bergaya hidup Eropa terus bersemi dan tumbuh subur. Hal ini disebabkan pengasuhan sang ibu yang berlebihan dalam memanjakan anak, selalu berusaha mewujudkan keinginan sang anak untuk bergaya hidup Eropa, baik dalam masalah pakaian, makanan, perabot rumah tangga, dan interior rumah. Jika sang ibu merubah komposisi perabotan rumah dengan perabotan lokal, maka sanag anak merasa kurang bangga melihatnya, bahkan disuruhnya agar dijauhkan. Terlebih sikap anti Islam dan Melayu serta sifat negatif lainnya sebagaimana telah disinggung di atas, maka pantaslah hal menarik ini menjadi  sebuah judul novel yang menjiwai kesuluruhan cerita yang dikandungnya, “Salah Asuhan”.
Berbeda dengan kalangan tetua, meski anaknya berperilaku dan bergaya hidup Eropa, adat istiadat lokal sangat melekat erat dalam diri mereka. Tapi, konsistensi mereka dalam melestarikan dan mempertahankan eksistensi budaya lokal tidak sampai kepada pewarisan terhadap anak cucu.
Novel ini menghadirkan sebuah adat Eropa yang sangat menarik sekaligus sedikit membuat mulut pembaca tersungging, yaitu adat orang Perancis dalam penerimaan tamu yang begitu ramah, namun ia segera memuji tamunya saat mereka segera pulang kembali.
Hal positif yang dihadirkan kaum Eropa di Indonesia adalah penanaman kesadaran urgensi pendidikan tinggi bagi kaum wanita. Du Busse terus memaksa anaknya, Corrie untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi meskipun banyak cobaan yang menerpa Du Busse. Kondisi ini sangat kontradiktif dengan budaya bumiputera. Saat itu, wanita hanya dianggap sebagai pelayan suami dan bekerja tidak keluar dari urusan rumah tangga dan mengasuh anak.
Corrie sebagai wanita yang sangat cantik sehingga memukau banyak lelaki menjadi pemicu atau kalau tidak, ia mempertahankan budaya berkirim surat cinta dan bergombal-gombal. Budaya seorang lelaki yang merayu wanita pujannya sangat kontradiktif dengan budaya bumiputera yang hanya cukup mendatanginya secara langsung ke keluarga wanita pujannya tersebut dan meminta agar sudi menikahkannya. Bahkan, isi surat cinta yang dikirim kepada Corrie mencapai klimaknya saat pengirim akan nekad bunuh diri di depannya jika Corrie tidak menanggapi cintanya. Sepertinya, budaya ini menjadi bahan perbincangan kawula muda sampai saat sekarang, bahkan telah menjadi bumbu dalam setiap hubungan cinta antara dua orang kekasih.
Selain berpengaruh terhadap para pemuda yang sedang mencari pujaan hatinya, sikap kaum muda Eropa yang dalam hal ini diwakili oleh sikap Corrie, juga berpengaruh terhadap kepribadian wanita yang merasa dirinya dikejar-kejar kaum lelaki. Mereka mengacuhkan semua bentuk usaha para pemuda yang ingin menarik hatinya sampai benar-benar terbukti salah seorang dari mereka menyatakan cintanya yang tulus. Sikap Corrie yang baik budi terhadap semua kaum lelaki menambah semangat kaum pria untuk mendekatinya, namun jika berani berbuat macam-macam, maka ia tidak segan-segan berbuat sesuatu yang membuat mereka tidak akan berani lagi mendekatinya. Jika ada di antara pria yang mengikat hatinya, tidaklah terkira sukacitanya laksana orang yang sedang menanggung bahaga bertemu dengan minuman lezat. Namun, jika dalam pertemuan pertama langsung menyatakan cinta, tanpa berusaha mengenal lebih dekat dahulu, hatinya langsung dingin dan membencinya seketika itu pula. Fakta dan ritual percintaan seperti ini pun terjadi di masa kita sekarang dan akan terus mengalami peningkatan sebagaimana disiarkan dalam pertelivisian Indonesia beruapa FTV, sinetron, dan media lainnya.
Budaya dalam lingkungan keluarga, yaitu hubungan antara ayah sebagai orang tua dan anak, yang dalam hal ini dicontohkan oleh Du Busse dan Corrie, sangat berbeda dengan adat keluarga pribumi. Keterbukaan sesama anggota keluarga menjadi ciri utama keluarga Eropa, meski antara orang tua sebagai orang dewasa dengan anak. Namun, imbasnya, sikap keterbukaan dan kebebasan berekspresi seperti ini berimbas pada sikap sang anak terhadap orang tuanya yang terkadang kurang mengindahkan perkataan orang tua karena dianggapnya tidak sakral. Corrie saat pulang dari lapangan tenis dan mukanya kemerah-merahan, lalu dikomentari oleh ayahnya, ia tidak menyahut dan tetap tenang meneruskan fokus kegiatannya. Sikap seperti bertolak belakang dengan adat pribumi yang mengaruskan seorang anak merespon semua pembicaraan orang tua saat ditujukan kepadanya. Jika dilanggar, maka anak tersebut dianggap telah melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan agama karena tidak berbakti kepada orang tua. Selain itu, sang anak dibiarkan tidak boleh ikut campur urusan orang dewasa. Hal ini membuat efek negatif saat sang anak mulai membicarakan masalah dewasa sehingga orang tua menutup-nutupi informasi tentang hal yang ditanyakan. Berbeda dengan Du Busse, secara panjang lebar dan rinci, ia menjelaskan kepada Corrie rintangan-rintangan yang harus dihadapi saat kawin campuran antara keturuna Eropa terhormat dengan pribumi.
Terkait perkawinan campuran antara wanita bangsa Eropa dengan pria pribumi, sebagaimana telah sedikit disinggung di atas, hak-hak wanita sebagai bangsa Eropa dicabut dan dijauhi oleh bangsanya sendiri. Namun, alasan ini dibantah oleh Corrie yang menganggap Hanafi sama halnya dengan bangsa Eropa bahkan mereka menyukainya. Watak Hanafi sama halnya dengan watak ibu Corrie yang telah meninggal dunia. Hal ini memperkuatnya untuk menjalin hubungan serius dengannya. Du Busse yang telah banyak makan garam memberikan alasan logis lainnya, ia menghadirkan fakta bahwa pengormatan bangsa Eropa terhadap pribumi hanya sekedar pernghormatan biasa kepada pribumi yang bertingkah laku sopan. Namun, pada saat pribumi tersebut berani menikahi wanita Eropa, mereka menganggapnya besar kepala dan telah lancang sehingga segera mereka jauhi dan kucilkan. Kondisi seperti ini sering terjadi di Indonesia yang diduduki oleh sebagian kecil orang Eropa, akan lebih parah lagi jika di negara Eropa sendiri.
Sikap bangga pribumi terhadap bangsa Eropa, selain meniru gaya hidup mereka, kedatangan mereka untuk berkunjnung merupakan sebuah penghormatan yang diimpi-impikan oleh sebagian besar pribumi. Cara menyambut tamu Eropa berbeda seperti biasanya dengan tradisi lokal, bangsa Eropa dalam hal ini Belanda. Mereka disuruh duduk di atas kursi bukan permadani yang terhampar di atas lantai sebagaimana layaknya adat Minangkabau.
Saat seorang pria keturunan Eropa menikah dengan wanita pribumi, tamu Eropa yang berkunjung hanya memberi hormat kepada keturunan Eropa saja, tidak kepada istrinya. Status pribumi yang melekat pada istri lelaki berkebangsaan Eropa tidak lepas sehingga di manapun tidak mendapatkan penghormatan sebagaimana penghormatan yang didapatkan oleh suaminya. Hal inilah yang menambah tekad Corrie untuk memutuskan hubungannya dengan Hanafi. Bentuk perhatian lebih sang ayah terhadap Corrie dalam hal ini disebabkan faktor traumatis dirinya sat menyaksikan sendiri kondisi istrinya yang selalu terhina di depan mata Barat dan Timur, terutama Barat. Jika seandainya, pernikahan campuran terjadi, perlakuan bangsa Eropa di tempat kerja akan memberi pengaruh buruk terhadap kinerja suami sehingga kepercayaan pemilik perusahaan akan hilang dan akhirnya ia dipecat. Selain itu, pergolakan batin yang disembunyikan karena mendahulukan rasa cinta, suatu saat akan tampak, salah satunya sebagaimana diceritakan oleh Du Busse kepada anaknya, yaitu ketika makanan yang disajikan istri tidak sesuai selera suami yang telah mendapatkan perlakuan buruk dari sesama pegawai kantor.  Singkatnya, efek negatif hubungan campuran Eropa dan pribumi lebih besar dibanding keuntungannya sehingga jika dilakukan akan menimbulkan penyesalam yang tak terhingga dan susah dilupakan. Banyak pengorbanan yang dilakukan, mulai dari pengucilan keluarga, masyarakat sekitar, dan bangsa dalam lingkup yang lebih luas.
Hal ini juga lah yang membuat Hanafi bersikap kasar terhadap istrinya, Rapiah saat ia menerima tamu orang Eropa. Ia merasa tidak mendapat kehormatan karena menikah dengan sesama pribumi. Pasca pernikahannya dengan Rapiah, hanya sedikit teman Eropanya yang berkunjung ke rumah.
Sikap yang ditampilkan oleh keluarga De Busse merupakan sikap positif yang ditampilkan sebagian kecil bangsa Eropa saat itu di negara jajahan. Ia sendiri menolak pengklasifikasian manusia berdasarkan keturunan, keturunan terhormat dan tidak terhormat. Ia menganggapnya sebagai salah satu bentuk kesombongan bangsa yang tidak beralasan.
Bangsa pribumi yang dalam hal ini digambarkan dalam tokoh Hanafi, ingin dipersamakan haknya dengan bangsa Eropa. Jika seorang bumiputera meminta dipersamakan haknya dengan bangsa Eropa, maka ia tidak dapat menggurkan dan mencabut kembali permintaan tersebut.
Deskripsi lainnya terkait budaya Eropa di Indonesia, kebiasaan kaum pria Eropa di rumah membaca koran sambil duduk di atas kursi malas. Hal ini menjadi kebiasaan yang dilakukan kaum ningrat pada saat itu, namun pada masa sekarang, aktivitas seperti ini telah membudaya bagi semua kalangan di Indonesia.
Perjodohan masih berlaku di masa Hanafi hidup. Ibunya mennganjurkan agar menikahi Rapiah sebagai bentuk balas budi terhadap jasa Sutan Batuah. Pernikahan yang cenderung dipaksa ini hampir menemui kegagalan karena sikap Hanafi sendiri yang tidak mau mengikuti aturan adat perkawinan Minangkabau, yaitu salah satunya memakai destar saluk, pakaian adat Minagkabau. Setelah dipaksa beberapa kali, baru ia mau memakainya hanya sekedar formalitas selain seragam Eropa yang dipakainya, seperti jas hitam, celana hitam, dengan berompi dan berdasi putih. Suasana yang paling mengharukan dan membuat pembaca naik darah adalah ketika ia dipaksa memakai tanda ke-Mingakabau-an sampai para perempuan pun menangis karenanya.
Terakhir sebagai penutup, alangkah indahnya perkataan sang dokter ketika menasehati Hanafi yang sedang diobatinya, “Tuan Han, bagi Tuan amat melarat, jika berkata-kata panjang. Baiklah Tuan mendengarkan saja apa yang hendak saya tuturkan, sebagai dokter dan sebagai manusia. Kita berhadapan sebagai orang yang sama-sama terpelajar, sopan, muda dan sudah tentu sama-sama pula mengetahui dan menderita akan arti cinta. Dengarlah ! sepanjang pendapat saja, cinta itu akan berbukti benar, bila yang menaruhnya tahu menaruh sabar, tahu menegakkan kepalanya di dalam segala rupa bahaya serta rintangannya. Cinta itu tahu memberi korban, jika perlu.”

kritik sastra

 

1.        Sinopsis
Novel “Bukan Pasar Malam” ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dan diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun  1951. Hal ini menunjukkkan bahwa novel “Bukan Pasar Malam” ditulis sebelum tahun 1951, lima atau enam tahun pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Novel “Bukan Pasar Malam” menceritakan seorang tokoh “Aku” yang merupakan anak tertua dari tujuh bersaudara. Ia pernah ikut bertempur melawan Belanda namun pertahanannya berhasil ditaklukkan sehingga timbul korban yang sangat banyak, baik dari kalangan tentara maupun rakyat sipil. Ia kemudian dipenjara karena ikut terlibat dalam gerakan revolusi Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia). Setelah keluar dari penjara, ia menerima surat dari pamannya yang memberitahukan bahwa bapaknya sakit keras dan memintanya untuk pulang. Ia sangat terpukul saat membaca surat tersebut. Kemudian ia bersama istrinya berangkat menuju Blora dengan susah payah karena tidak memiliki cukup uang sehingga harus meminjam uang kepada temannya.
Sesampainya di Blora, ia melepas rindu kepada saudara-saudaranya lalu pergi ke rumah sakit untuk menemui bapaknya yang terkena penyakit TBC akut. Ayahnya adalah salah seorang pegawai pemerintah Belanda yang ikut berjuang melawan pemerintah di bawah tanah. Ia mengeluarkan sebagian besar gajinya untuk membiayai pergerakan perlawanan. Bahkan ia merupakan pemimpin para gerilyawan sebagimana dituturkan oleh sang dukun kepada tokoh “Aku”. Kemudian ia diangkat sebagai pengawas sekolah dan tidak berselang lama ia mengabdikan sisa hidupnya sebagai guru. Namun ia tertangkap oleh pasukan merah saat gerakan revolusi Pesindo dan dipenjara selama dua minggu yang membuatnya jatuh sakit.
Sang ayah sebagai seorang pejuang nasionalis tulen yang seharusnya mendapatkan perawatan yang layak di sanatorium saat kemerdekaan tercapai, malah membuat ia dan keluarganya menderita dan tinggal di rumah yang mau runtuh. Namun, ia menerima keadaan seperti itu dengan lapang dada bahkan jiwa sosialnya lebih besar daripada interest pribadi. Ia menyuruh anaknya agar memperbaiki sumur yang sering dipakai orang-orang sekitar dibanding memperbaiki rumahnya yang sudah tua. Meskipun ditekan terus oleh tokoh “Aku” agar menyuruhnya untuk merenovasi rumah, sang ayah tetap pada pendiriannya. Perawatan seadanya yang disediakan oleh rumah sakit ditambah ketidakpedulian para perawat terhadap pasiennya, menambah penyakit TBC yang dideritanya.
            Setelah lama tinggal di Blora, istrinya yang berasal dari Jawa Barat menyuruhnya agar segera pulang karena persediaan keuangan yang semakin menipis. Namun, anjuran istri tidak membuatnya hengkang dari Blora karena tidak tega meninggalkan ayahnya yang terkujur kaku digerogoti TBC yang semakin menjadi-jadi. Bapaknya bahkan memberi pesan kepadanya agar ia memahami betul adat istrinya yang berasal dari tempat di luar Jawa Tengah.
            Pada saat ayahnya dipindahkan dari rumah sakit ke rumah, sakitnya bertambah parah. Kedatangan para tetangga yang semakin banyak telah membuatnya sang bapak terganggu sehingga setelah ia memberi nasihat kepada keluarganya, ia menyuruh mereka ke luar dari kamar. Setelah itu, ia meninggal dunia dan membuat gempar seisi rumah.
2.        Analisis Novel “Bukan Pasar Malam” dengan Pendekatan Sosiologi Sastra
Tercatat dalam surat yang dikirim oleh sang bapak kepada tokoh Aku, Blora 17 Desember 1949. Kemudian tahun penerbitan novel oleh Balai Pustaka, yaitu tahun 1951 menambah kuat dugaan novel ini ditulis sebelum tahun 1951. Itu artinya, novel ini ditulis setelah lima tahun Indonesia merdeka. Tentu saja, kondisi sosial masyarakat saat itu sangat mempengaruhi pengarang dalam penulisan novel “Bukan Pasar Malam”.
Terkait judul novel “Bukan Pasar Malam” mengindikasikan kondisi di luar suasana pasar malam saat novel ini ditulis. Pasar malam yang sering dikunjungi banyak orang silih berganti, datang dan pergi. Keramaian di pasar malam menambah hidupnya malam yang gelap gulita sehingga pengunjung tidak merasa kesepian. Penjelasan ini membantu kita membuat penafsiran judul novel “Bukan Pasar Malam”, kondisi di mana seseorang merasa sendiri dan tidak ada orang yang memperhatikan sehingga manusia dianggap hidup sendiri, senang sendiri, sakit sendiri, bahkan mati pun sendiri. Begitulah suasana di masa pasca kemerdekaan di Indonesia pada umumnya. Para pejuang kemerdekaan yang berusaha mewujudkan impian untuk merdeka, saling memperhatikan satu sama lain dan saling mengerti terhadap kemampuan masing-masing. Mereka bersatu padu, menyeragamkan barisan, dan mencegah segala bentuk perpecahan. Namun, setelah kemerdekaan tercapai, para elit politik dan orang-orang yang merasa berkedudukan sebagai borjuis saling memperebutkan kekuasaan tanpa memperhatikan kondisi rakyat yang sangat terpuruk. Mereka individualistis tidak merasa peduli dengan kondisi orang lain yang membutuhkan uluran tangan. Bahkan mereka berani dengan lancang mengabaikan para pejuang kemerdekaan, salah satunya yang digambarkan dalam tokoh bapak yang sama sekali tidak mendapatkan penghidupan yang layak dan perawatan yang baik saat ia sakit. Bahkan, istilah perwakilan rakyat yang secara eksplisit memberi arti penyampai aspirasi rakyat, oleh bapak tokoh “Aku” dianggap sebagai panggung sandiwara. Lain di hati, lain di mulut. Ia lebih memilih profesi yang langsung terjun ke lapangan, yaitu sebagai guru di sekolahan. Ia menekankan bahwa dirinya tidak bertempat di kantor tapi di sekolahan.
Pelayanan para pejabat penting sangat terjamin dan mudah didapat. Presiden, menteri, dan pejabat-pejabat terkait saat akan melakukan perjalanan, transportasi telah tersedia plus pelayanan lainnya di tengah perjalanan. Sedangkan kaum proletar ketersidaan uang untuk ongkos pun sangat susah. Inilah salah satunya yang disesalkan oleh kaum sosialis.
Kepedulian sosial para nasionalis sebenarnya denga para sosialis tidak ada perbedaan. Hal ini dapat diambil dari perbandingan sikap kawula muda yang diwakili oleh tokoh Aku dan ayahnya sebagai nasionalis. Nilai kemanusiaan sama-sama dijunjung tinggi oleh mereka berdua. Di antara keistimewaan lain yang dimiliki oleh sang ayah adalah kesabarannya dalam menghadapi tekanan demi tekanan dari masyarakat yang menganggapnya sebagai anjing Belanda. Padahal, walaupun ia bekerja di instansi pemerintahan Belanda, sebagian besar gajinya digunakan untuk kepentingan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Memang, sikap masyarakat seperti ini disebabkan karena faktor ketidaktahuan, namun sangat disesalkan kenapa mereka tidak berbaik sangka dan mencari kejelasan sehingga tidak menzalimi orang yang sebenarnya sangat berjasa atas mereka. Inilah fenomena masyarakat Brola saat itu yang mudah terbawa berita angin tanpa melihat lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi.
Fenomena sosial seperti disinggung diatas menimbulkan klasifikasi kelas sosial, kaum borjuis dan proletar. Kaum proletar tidak mendapatkan hak-hak mereka sebagaimana apa yang didapatkan oleh kaum borjuis. Kecemburuan sosial seperti ini menimbulkan keinginan sebagian orang untuk mengadakan gerakan revolusi dengan tujuan menyamaratakan pemenuhan hak-hak semua warga sehingga terhapuslah pengkelasan sosial tersebut. Tujuan baik ini kemudian disalahartikan oleh para penguasa yang didorong oleh kekhawatiran mereka terlepasnya kedudukan yang telah mereka kuasai, sehingga berusaha memadamkan gerakan yang dianggap sebagai pemberontakan terhadap pemerintah. Padahal jika dilihat lebih seksama, justru gerakan muda sosialis inilah yang langsung terjun ke masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Pengikut gerakan ini lebih mengetahui kondisi masyarakat yang sebenarnya dibanding pejabat terkait yang hanya memperkaya diri sendiri.
Dalam novel ini digambarkan para ulama dan pengurus agama terkait kurang memperhatikan sikap nasionalisme sehingga membuat bapak tokoh “Aku” menolak menjadi seorang ulama dan katib walau ia sendiri merupakan keturunan ulama, namun ia berkeinginan menjadi seorang nasionalis yang dapat mengingatkan kepada rakyat waktu kelahiran sesuatu yang diperjuangkan oleh para putera bangsa terbaiknya, yaitu kemerdekaan Republik Indonesia.
Budaya dalam dunia politik pada saat itu berbeda dengan kebiasaan sebelumnya di zaman kolonial Belanda. Sebelumnya, penghormatan terhadap penguasa dengan cara membungkuk dan ritual-ritual lainnya, sangat diperhatikan bahkan menjadi sebuah keharusan. Namun, setelah kemerdekaan Indonesia tercapai, adat yang diberlakukan pada masa penjajahan Belanda resmi dihapuskan.
Sistem demokrasi memang indah karena semua hak rakyat terjamin selama tidak keluar dari jalur hukum. Semua orang dapat menikmati apapun, dengan syarat memiliki alat yang dapat mencapai kenikmatan tersebut, yaitu uang. Tanpa uang, semua lumpuh. Hal inilah yang dikritik oleh tokoh Aku sehingga membuatnya masuk ke barisan Pesindo untuk melakukan gerakan revolusi sebagai amanat 17 Agustus 1945 bahwa kemerdekaan Indonesia belum berarti kemakmuran tetapi langkah pertama kepada perjuangan mencapai kemakmuran bagi tiap-tiap warga negara Indonesia.
Di tengah perjalanan memakai kereta api, terlihat banyak kaum papa yang mengais rezeki dari uluran tangan penumpang kereta. Ini merupakan sebuah fenomena yang lumrah, para penumpang yang memiliki sisa makanan, melemparkannya ke luar yang kemudian dipungut oleh anak-anak dengan berebut. Suasana lebih menyayat hati saat melewati semak-semak yang penuh kijang dan di sekelilingnya terdapat rumah-rumah sempit masyarakat miskin.
Masyarakat di sekitar rumah keluarga tokoh Aku di Blora sangat menghormati orang yang memiliki sumur.  Kondisi seperti ini sama halnya dengan kebudayaan Arab yang menghormati pemilik sumur. Sikap masyarakat seperti ini cukup beralasan karena kebutuhan mereka terhadap air adalah kebutuhan primer. Tidak setiap orang mampu membuat sumur sehingga pemiliknya berusaha keras mempertahankan eksistensi sumur untuk menjaga kehormatannya di mata masyarakat sekitar. Selain itu, tujuan menjaga sumur agar tetap ada ditujukan agar masyarakat tetap tercukupi kebutuhan airnya tanpa mengharapkan imbalan. Inilah yang terjadi pada diri bapak tokoh “Aku” yang lebih mementingkan kepentingan umum, yaitu memperbaiki sumur, daripada memperbaiki rumahnya yang sebentar lagi akan roboh karena selama 2o tahunan tidak pernah direnovasi.
Begitupun sebaliknya, jika sumur yang dimiliki sebuah keluarga hanya untuk mencukupi kebutuhan pribadi, masyarakat sekitar akan membecinya dan menjauhinya. Mereka menganggapnya orang kedecut (kikir).
Realitas sosial selanjutnya, kepedulian masyarakat di Blora terhadap sesamanya sangat besar. Hal ini ditunjukkan pada saat mereka sama-sama datang ke rumah bapak tokoh Aku untuk menjenguknya. Memang, sikap peduli seperti ini secara selintas pandang sangat baik, namun kerumunan orang yang ramai dan bersuara malah akan mengganggu orang sakit. Bahkan membuat sang bapak merasa terganggu dan membuat sakitnya bertambah parah yang membutnya meninggal dunia. Perintahnya agar sanak keluarga keluar sebagai isyarat agar para tetangga yang menjenguk segera meninggalkan ruangan. Inilah sikap negatif para pelayat selama ini yang tidak memahami keadaan. Seharusnya mereka menyempatkan diri untuk tidak berbicara hal-hal yang tidak perlu. Bahkan, di dalam cerita novel ini, para tetangga menjenguk ayah tokoh “Aku” hanya untuk mengobrol di depannya bahkan tidak terlibat dalam pembiayaan perawatan sang bapak di rumah sakit. Sikap ini dianggap wajar berhubung kondisi ekonomi masyarakat  Blora yang memprihatinkan termasuk keluarga tokoh “Aku”. Di samping alasan logis kenapa mereka tidak memberikan sumbangan materi kepada keluarga yang terkena bencana, ternyata mereka juga memiliki sifat negatif yang logis juga, seperti sifat individualitis yang dominan. Mereka hanya memperdulikan dirinya sendiri, keluarga sendiri, dan lingkungannya. Saat orang lain mendapatkan kenikmatan, rasa dengki tumbuh subur dan semakin menjadi-jadi. Mereka berusaha menurunkan pamor dan kehormatannya sehingga saat keluarga yang mendapatkan kenikmatan tersebut runtuh, mereka bersorak sorai dan ikut serta meruntuhkannya.
Fenomena negatif di atas yang sudah lumrah pada saat itu ketika melawat orang sakit, membuat sang ayah gusar dan tidak mau dijenguk oleh siapapun keculai oleh keluarga. Begitu pun orang lain yang sedang menderita sakit parah. Teman bersenang-senang bagi kaum laki-laki saat itu, seperti berjudi, tidak memberikan perhatian terhadapnya. Fenomena perjudian di Blora merupakan hal yang lumrah. Mereka yang memberikan perhatian terhadap perjudian adalah kaum Tionghoa. Mereka bahkan sangat kehilangan saat mendengar ayah tokoh “Aku” meninggal dunia. Kemudian mereka berusaha mencari pengganti lain yang sepadan dengannya.
Saat di antara warga Blora menderita sakit, kebanyakan mereka berobat kepada seseorang yang dianggap memiliki kemampuan dalam bidang penyembuhan penyakit meskipun tidak berlisensi. Mereka menyebutnya sebagai dukun. Dukun yang dihadirkan di dalam novel ini merupakan seorang guru sekolah rakyat yang mengabdikan dirinya untuk mengajar para generasi muda Blorasekedarnya. Semangat yang tinggi agar menghasilkan guru-guru handal di masa depan tidak pernah surut bahkan ia jadikan motto guru sebagai sebuah pengorbanan demi kebaikan di masa yang akan datang meskipun hanya tiga orang muridnya yang memiliki cita-cita sebagai guru dan yang lainnya melanjutkan ke sekolah menengah. Realita ini menunjukkan minimnya jumlah guru di daerah luar perkotaan. Bahkan tugas sebagai guru bukan profesi utama, namun penjual sate dan profesi-profesi lainnya yang tidak layak menjadi guru adalah fenomena yang tidak asing di perkampungan-perkampungan yang jauh dari perkotaan. Inilah salah satu pernyataan sang dukun kepada para muridnya agar mereka lebih bersemangat untuk menjadi guru yang sebenar-benarnya.
Dukun yang dihadirkan dalam cerita novel menjadi pilihan utama masyarakat untuk berobat walaupun obat dan resep yang diberikan sangat meragukan keampuhannya. Tokoh Aku sendiri, meskipun meragukan keahlian sang dukun ini, tetap meminta bantuannya. Namun, sikap seperti ini menjadi bahan pergolakan batin karena khawatir bertolak belakang dengan agama sehingga dianggap musyrik. Meskipun pada akhirnya, ia benar-benar menghiraukan resep dari dukun karena sedikitpun tidak memberikan efek positif bagi kesembuhan sang ayah.
Kondisi murid yang beraneka ragam latar belakang, ikut menentukan hasil belajar di sekolah. Seorang anak yang berasal dari keluarga terhormat cenderung bersikap yang tidak sesuai dengan aturan sehingga perlu diberi peringatan. Tindakan preventif guru terhadap murid seperti ini sangat terpuji bahkan didukung oleh para keluarganya. Mereka sendiri mengakui tidak dapat mengurus anaknya dengan baik sehingga menyerahkan semua urusan pendidikan anak kepada guru. Realita ini sangatlah layak menjadikan guru sebagai orang tua kedua selain orang tua di rumah. Guru adalah pendidik akal dan moral. Realita sekarang sangat kurang layak menghubungkannya dengan prinsip guru sebagai orang tua ke dua karena mereka di sekolah hanya memberikan kepedulian terhadap kecerdasan kognitif, bukan afektif. Memang tidak semua, tapi hanya sebagian kecil saja pengajar yang layak menyandang gelar orang tua ke dua.
Pengadaan sarana belajar seperti sekolahan tidak mudah direalisasikan, terutama pada masa penjajahan Jepang. Oleh karena itu, ada anggapan bahwa penjajahan Jepang hanya akan membodohkan rakyat Indonesia karena setiap ada pembelajaran, bom sering mengguncang. Kondisi ini pernah terjadi pada diri dukun yang berprofesi sebagai guru. Pada pertama kali mendirikan sekolah, ia diancam bahwa sekolahnya akan dibakar. Namun, karena ada sokongan dan dukungan dari belanda, akhirnya sekolah rakyat tersebut tetap eksis.
Hubungan keluarga yang kuat sebagaimana digambarkan dalam keluarga tokoh Aku menjadi ciri kondisi sosial saat penulisan novel “Bukan Pasar Malam”. Hubungan ayah dan anak meskipun bertolak belakang dalam ideologi tetap terjaga harmonis. Bahkan, penyakit yang diderita sang ayah membuat luluh hati anak yang keras kepala. Sang ayah menasehati tokoh Aku yang terlibat dalam gerakan revolusi Pesindo, namun ia hiraukan. Ideologi sang ayah sebagai muslim sejati yang nasionalis bertolak belakang dengan tokoh Aku yang sosialis. Fenomena tersebut tidak mengganggu hubungan keluarga mereka bahkan seperti seiya sekata saat melihat suasana haru di rumah sakit. Sang ayah merasa sangat bahagia saat bertemu anaknya. Tidak ada kenikmatan bagi sang ayah kecuali bertemu anaknya yang telah lama tidak bertemu.
Perkawinan lintas suku merupakan fenomena biasa di saat penulisan novel ini. Tokoh Aku dari Blora, Jawa Tengah menikah dengan seorang wanita Sunda cantik dari Pasundan meskipun setelah beberapa tahun menikah, kecantikannya tidak lagi membuatnya kagum dan tertarik. Norma yang ditanamkan para sesepuh terhadap pasangan yang berbeda suku, menggambarkan sikap toleransi dan sikap saling memahami satu sama lain. Misalnya, sang ayah tokoh Aku memberikan nasehat kepada tokoh Aku agar berhati-hati dalam bersikap terhadap orang Sunda yang berbeda adat istiadatnya dengan Blora sehingga tidak menyinggungnya. Ia harus bisa memahami semua bentuk adat kebiasaan istrinya yang merupakan wanita Sunda asli. Namun, dalam cerita novel ini, wanita Sunda lebih bersikap materialistis dalam pernyataannya kepada sang suami agar segera pulang karena ketersediaan uang sudah menipis padahal kondisi mental dan keluarga tidak mendukung untuk pulang ke Jakarta. Anjuran istrinya ini sangat memberikan pengaruh terhadap tokoh Aku sehingga kegundahan hatinya dapat ditebak oleh sang ayah.
Fenomena sosial lain yang terungkap dalam novel “Bukan Pasar Malam”, kalangan anak-anak tidak diperbolehkan ikut bercengkrama dengan para orang dewasa. Mereka disuruh pergi ke ruangan lain untuk bermain dan belajar. Kondisi seperti ini bisa dianggap bijak berhubung anak kecil belum siap mendengarkan dan memahami apa yang dibicarakn orang dewasa. Bahkan dikhawatirkan akan terbawa ke suasana kelam saat membincangkan masalah yang tidak disukai.
Dalam setiap obrolan, kopi dan rokok selalu menjadi sajian utama demi kelancaran perbincangan di antara para orang dewasa. Biasanya, sebelum membincangkan masalah inti, dibincangkan dahulu hal-hal yang bisa menghangatkan suasana, seperti keadaan keluarga, kabar kota tempat mencari mata pencaharian, dan lain-lain. Di tengah obrolan terkadang terjadi senyap sepi karena kehabisan bahan pembicaraan. Namun, setelah kembali mereguk kopi dan menghisap rokok, suasana kembali cair dan ramai.