tangan ini terasa kaku
berat dan membisu
bersusah payah tuk ku gerakkan
tak sedikitpun berubah
dari jendela kamarku intip
kemana burung-burung kenari yang biasa mampir
setiap pagi hari biasa dia nangkring di dahan
pohon pinus seolah enggan menjawab
tapi pagi ini sungguh berbeda
hawa dan cuaca tak secerah biasa
embun menempel di kaca-kaca
kadang suara gemericik air hujan
terdengar jelas bahkan sangat deras
hujan membuat badanku menggigil
dingin sampai menyentuh tulangku
kadang terasa kantuk yang berat
tapi ini masih pagi
kemana jiwa semangatku
selimut dinginnya pagi hanya kamuflase
biar kau terjebak dalam kemalasan
ayo bangun
bangunlah mimpimu yang indah.
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Monday, March 12, 2012
Friday, March 2, 2012
khayal
terangnya bumi malam ini
rembulan patutlah bertanya
matahri sepenuh jiwa mengaliri
relung-relung cinta
permadani terbentang
seolah tamu agung kan datang
titisan cinta
menemani malam hening
terang sang bulan pun menerawangi
indahnya malam ini
rembulan patutlah bertanya
matahri sepenuh jiwa mengaliri
relung-relung cinta
permadani terbentang
seolah tamu agung kan datang
titisan cinta
menemani malam hening
terang sang bulan pun menerawangi
indahnya malam ini
Labels:
Puisi,
Siluet Karya
Thursday, October 6, 2011
siluet kehidupan
ukir dalam bayangku
terawang ke angkasa raya
menahan arogansi kehidupan
kedipkan mata batinmu
tak jenuh melihat sinar rembulan
seruling besi menggoyang gendang
telinga rentan olok-olok melawan
sisir keabadian rancu
kedip menanti jawaban
lorong belukar
semak melewati batas kesabaran
bawa arah yang lurus
arak-arak belantara
tak kan pernah tembus
letih dan sadar kelaparan
jiwa bagai buih
terombang ambing ombak
siluet kokoh di tembok siapa?
lihat daku menantang dinding
cicak terpaku menunggu
nyamuk berdengun tak sapa
aku disini sendiri
temani jiwaku merana
kau bawa luka batinku
jilat apimu menusuk harap dalam
tak mengapa bila...
kau tau sejarahku.\
terawang ke angkasa raya
menahan arogansi kehidupan
kedipkan mata batinmu
tak jenuh melihat sinar rembulan
seruling besi menggoyang gendang
telinga rentan olok-olok melawan
sisir keabadian rancu
kedip menanti jawaban
lorong belukar
semak melewati batas kesabaran
bawa arah yang lurus
arak-arak belantara
tak kan pernah tembus
letih dan sadar kelaparan
jiwa bagai buih
terombang ambing ombak
siluet kokoh di tembok siapa?
lihat daku menantang dinding
cicak terpaku menunggu
nyamuk berdengun tak sapa
aku disini sendiri
temani jiwaku merana
kau bawa luka batinku
jilat apimu menusuk harap dalam
tak mengapa bila...
kau tau sejarahku.\
Labels:
Puisi
Thursday, September 29, 2011
beuh.... beuh... beuh
panas menguliti tubuhku
dunia seakan berubah 360 derajat
hawa-hawa sumber globalisasi merayap
kau dimana sejuk?
berkutat lembaran air
tak dinyana kau meredup
bantu...
tolong hampiri jiwaku yang panas
selimuti tubuhku dengan aliran dinginmu
jangan rusak pohon disini
sumberilah uratnya dengan napas airmu
jaga dan jaga laksana saudaramu
dunia milik kita bersama
dunia seakan berubah 360 derajat
hawa-hawa sumber globalisasi merayap
kau dimana sejuk?
berkutat lembaran air
tak dinyana kau meredup
bantu...
tolong hampiri jiwaku yang panas
selimuti tubuhku dengan aliran dinginmu
jangan rusak pohon disini
sumberilah uratnya dengan napas airmu
jaga dan jaga laksana saudaramu
dunia milik kita bersama
Labels:
Puisi
Sunday, September 25, 2011
Puisi Hati
Seringai Bianglala
Teratai berombak ditepian rindang pohon benalu
Setetes embun terurai lepaskan senandung gelisah
Kuterjatuh lubuk meninjau karang
Hembus kain melambai bianglala
Di atas mendongak arah
Sulit jerami bertanam jamur
Congkak mencangkok di batangku
Lepas rantai kendali melilit
Terhempas sangat tak terarah
Sulit jerami terbakar
Basah – basah pun bebek membelukar
Dimana lubang tak bertuan
Basah rasanya menerawang
Tak tahu siapa yang di atas
gerus... terus... gerus...
Lawan siapa menantang tuk hidup
Malang 25 Sept 2011
Terik Mentari panas
Teratai berombak ditepian rindang pohon benalu
Setetes embun terurai lepaskan senandung gelisah
Kuterjatuh lubuk meninjau karang
Hembus kain melambai bianglala
Di atas mendongak arah
Sulit jerami bertanam jamur
Congkak mencangkok di batangku
Lepas rantai kendali melilit
Terhempas sangat tak terarah
Sulit jerami terbakar
Basah – basah pun bebek membelukar
Dimana lubang tak bertuan
Basah rasanya menerawang
Tak tahu siapa yang di atas
gerus... terus... gerus...
Lawan siapa menantang tuk hidup
Malang 25 Sept 2011
Terik Mentari panas
Labels:
Kajian Sastra,
Puisi
Friday, July 9, 2010
lingkaran kasih
saat jauh menjalar di hari-harimu
gundahpun berontak mengekangmu
khawatir hati ini
kau....
apa yang kubisa perbuat
rasa ini seolah memburu
menanti kabar burung tentangmu
melayang ...terbang pikiran ini
terbawa angin bersamamu
gundahpun berontak mengekangmu
khawatir hati ini
kau....
apa yang kubisa perbuat
rasa ini seolah memburu
menanti kabar burung tentangmu
melayang ...terbang pikiran ini
terbawa angin bersamamu
Labels:
Puisi
Wednesday, June 30, 2010
Kejujuran Hati
serangkai kata menggugah diri
setumpuk problema hidup menghimpit diri
sekarung motivasi terus di jelajahi
mengharap sebuah ketenangan hati
kemana....
kemana harus melangkah,
esok sudah menanti
berharap dan......
berharap esok kan lebih baik dari hari ini.
setumpuk problema hidup menghimpit diri
sekarung motivasi terus di jelajahi
mengharap sebuah ketenangan hati
kemana....
kemana harus melangkah,
esok sudah menanti
berharap dan......
berharap esok kan lebih baik dari hari ini.
Labels:
Puisi
Subscribe to:
Posts (Atom)