Pages

Showing posts with label Kajian Sastra. Show all posts
Showing posts with label Kajian Sastra. Show all posts

Sunday, April 1, 2012

“MERAJUT PUISI MENGOKOHKAN JATI DIRI”

Diseminarkan oleh: Afrizal Malna Ditulis kembali oleh: Nur Khusniyati (BSA) Puisi bukanlah milik suatu kaum, namun puisi adalah milik kita semua. Semua orang berhak terhadap puisi, semua orang berhak membuat puisi, bukan karena apa bukan karena siapa namun lebih karena puisi adalah ekspresi suatu emosi dan perasaan yang muncul dari dalam diri manusia dan semua manusia pasti memiliki emosi. Kedepan mungkin akan ada semacam suatu gerakan untuk memberlakukan puisi bukan lagi dari dunia sastra. Puisi merupakan suatu memori yang tersimpa. Puisi semakin tidak ada hubungannya dengan bahasa dan sastra. Dia sesuatu yang melekat pada faktor bawahan kita sejak lahir, bersifat organik dan natural. Fenomena yang banyak terjadi di Indonesia adalah para penyair sering menjaga tradisi puitik mereka dengan personifikasi seorang ibu dan perempuan, walaupun kebanyakan dari mereka adalah laki-laki. Hal itu wajar karena ibu dan perempuan adalah sosok yang memiliki ikatan batin dan emosi yang kuat dengan mereka.. Karena ditarik dari berbagai kepentingan, puisi menjadi tercabut dari ruhnya. Fenomena yang paling umum di Indonesia misalnya mereka menulis puisi untuk dikomersilkan, menulis puisi untuk redaktur berharap akan diterbitkan di suatu kolom berita atau dicetak menjadi sebuah antologi puisi. Sebenarnya redaktur tidak akan bertanggung jawab pada puisi, mereka hanya bertanggung jawab dengan kedudukan mereka, mereka tidak mau mengambil resiko, sehingga terkadang mereka tidak mau membaca puisi-puisi pendatang baru yang ditulis oleh puitikus-puitikus yang masih belum ternama. Puisi adalah alat kritik sosial. Kedudukannya menjadi penting untuk melawan penyimpangan-penyimpangan pemerintahan, ketidakadilan, penindasan, dominasi modal, kapitalisme, monopoli dan sebagainya. Puisi juga untuk merayakan suatu kebahagiaan, merayakan suatu moment dan merekam suatu fenomena. Ketika kita mulai sibuk membuat hubungan-hubungan yang melemahkan kita atau hubungan-hubungan yang menyakiti kita maka puisi adalah tempat untuk kita kembali. Sastrawan-sastrawan angkatan pujangga baru seperti Khairil Anwar dan Sutarji Kalsum Bahri menggunakan puisi sebagai alat untuk membuang kata-kata saat mereka tidak bisa melakukan apa-apa dan merasakan penat dan sesak dengan keadaan saat itu. Terkadang kita cenderung curiga dengan puisi-puisi kontemporer. Puisi dapat ditarik menjadi fenomena dunia domestik yang di dalamnya penuh dengan hubungan yang hiruk-pikuk. Seorang penyair akan membuat diplomasi antara dunia internal dan dunia eksternal penyair, sehingga sesuatu yang ditangkapnya akan menjadi sesuatu yang lebih berarti. Penyair masa kini banyak mengambil gejala-gejala menarik dunia eksternal sebagai objek kajiannya. Namun tidak jarang karena tujuan itu mereka menceburkan diri mereka dengan bergaul di dunia luar tidak untuk mendapatkan sesuatu tapi untuk menyesatkan dirinya sendiri untuk dibunuh dan untuk tersesat. Apakah dunia luar itu adalah identitasnya? Sehingga setiap kali dia di luar orang akan bertannya “kamu itu siapa?”. Berbeda dengan para penyair jaman dahulu, mereka menceburkan dirinya di dunia luar untuk memenangkan dirinya dan memperkenalkan identitasnya. Mereka menggunakan mitos-mitos dan narasi-narasi dalam menyampaikan puisinya. Berbeda dengan puisi kontemporer, para sastrawannya menganggap mati atau hidup itu sudah tidak ada artinya. Mereka menggunakan bahasa-bahasa sebagi aktor dan meramu bahasa secara apa adanya. Puisi-puisi yang menggambarkan demonstrasi-demonstrasi emosi. Sejarah sastra kita diringkus dengan kekuasaan.Sebuah puisi adalah sebuah puisi. Apalagi jika puisi ditempatkan dalam suatu masa maka puisi itu bisa dibakar sebuah wacana. Kontroversi dalam sastra itu bukan merupakan kontroversi, namun itu merupakan dua sisi yang hedonis yang estetis. Puisi tidaklah harus terkungkung dalam konvensi-konvensi sosial. Bahkan dia harus bisa berdiri sendiri dengan bebas tanpa menunggangi suatu kepentingan. “Apa itu puisi?” adalah pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan puisi. Puisi itu membutuhkan horoskop atau horizon bukan teori. Puisi tidak ada hubungannya dengan akademik. Naik gunung, berlayar, menyelam, menonton teater, menonton bioskop, bergaul dengan teman, mencintai, membenci, terjatuh, terluka, kecewa, dll adalah pengalaman yang kita rasakan dan kita alami. Saya tidak menulis dengan hanya tangan saya. Saya menulis dengan pengalaman yang saya alami. Jika menggambarkan panas, saya harus bertannya pada tubuh saya tentang bagaimana panas. Ketika kaki saya terkena paku dan berdarah, saya bertannya pada tubuh saya tentang apa yang saya rasa. Saya lebih percaya dengan tubuh saya dari pada dengan pikiran saya. Ada sebuah ruang dalam kata-kata. Ruang itu memiliki dimensi multi makna. Puisi tidak pernah bisa mati. Ruang kreatif kita menjaga sesuatu dalam diri kita yang tidak perlu didefinisikan, itu adalah puisi. Puisi kalau dia didefinisikan, dia akan menjadi sebuah kekuasaan. Lalu kenapa puisi itu tidak bisa menjadi komonditi? Apa sebenarnya puisi itu? Puisi itu janganlah didefinisikan. Puisi itu adalah sesuatu, bagaikan udara, embriologi, tubuh, ruh dan nyawa. Puisi itu janganlah dikebiri dengan konvensi bahasa dan jangan juga dikebiri dengan konvensi sastra. Puisi ya puisi itu sendiri. Puisi merupakan pengalaman diri sendiri, pengalaman tubuh, rohani, ruh dan spiritual. Indonesia adalah negara yang multi etnik, suku, bahasa dan budaya. Saya sekarang banyak berpikir dengan tradisi puitik di masyarakat kita. Saya pernah ke Toraja yang setiap pohon besar yang ditutupi ijuk itu berarti kuburan bayi yang mati. Mbah Marijan sang penjaga gunung, grebek Suro di Jogja, Ngaben di Bali, dll merupakan salah satu tradisi puitik negri ini yang sangat beragam, luas, unik, dan heterogen. Masakan-masakan Indonesia yang dimasak oleh prempuan juga jamu-jamuan, tari-tarian, ritual-ritual kelahiran, dll merupakan tradisi-tradisi puitik Indonesia yang banyak dijaga oleh perempuan. Di jaman sekarang tradisi-tradisi puitik itu diklaim oleh individu-individu, bukan lagi ikatan-ikatan masyarakat. Kita semua bisa menulis apapun karena teks itu bisa mengejar kita sendiri. Merayakan memori itu menjadikan puisi itu hidup, mulai dari melahirkan sampai menyusui, perjalanan mulai dari kecil sampai tua rentah, tentang memasak, tentang berkerja, tentang merawat anak atau tentang saat kita rebahan di pangkuan ibu. Wanita adalah orang yang paling memiliki pengalaman yang lebih komplek dari laki-laki, jadi wanita adalah orang yang paling menguasai sastra dan orang yang paling berhak untuk bersastra, karena kompleksitas pengalaman hidupnya. Jika ada pertanyaan tentang “bagaimanakah cara memaknai puisi?” maka saya akan mengtakan bahwa saya tidak pernah membaca puisi untuk mengartikannya. Menurut saya puisi adalah sebuah arsutektur. Puisi itu untuk menguak tabir arsitektur yang ada di baliknya. Jadi puisi itu indah karena dirnya sendiri bukan karena didefinisikan.

Tuesday, November 8, 2011

ANALISA DAN RUMUSAN KAJIAN Novel " Di Bawah Lindungan Ka’bah” Karya Buya Hamka

Sedikit penulis petik dari Novel
Di Bawah Lindungan Ka’bah” Karya Buya Hamka ”
Judul APAKAH NAMANYA INI? Halaman 8

“Haji Jaafar tersenyum mendengar saya mengucapkan terima kasih. Mak Asiah memujimuji saya sebagai seorang anak yang berbudi, Cuma ketika berhadapan dengan Zainab dalam rumahnya, mulut saya tertutup, saya menjadi seorang yang bodoh atau Pengecut”

Saya seorang berbudi mewakili orang berilmu, takluknya orang berilmu didepan wanita yang menggetarkan hatinya menjadi gambaran bahwa ada perasaan dalam hati orang berilmu tehadapa wanita tersebut.
Gambaran sebagai orang yang berilmu terkesan dibuat-buat agar pembaca memahami perasaan yang dibawa penulis, padahal kesan kikuk justru menjadikan suasana berubah 360 derajat dengan adanya Zainab.
Bukankah sebuah karya memiliki nilai-nilai keindahan yang terkandung didalamnya? Mengapa sulit menyempurnakan sebuah karya tanpa penilaian dan penafsiran dari orang lain, tidakkah penikmat sastra sendiri memiliki perspektif yang beda?yang perlu dianalisis apa?kemajemukan apakah dasar kelanggengan sastra.
Sedikit jauh penulis menggambarkan kesan beragam tentang perkembangan sastra itu sendiri, cuplikan cerpen di atas sebagai intermezzo pembuka dalam kajian kritik sastra kali ini. Semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca budiman.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dosen Mata Kuliah Naqd Al Adab Ahmad Kholil M,Fiil.I yang telah memberikan kebebasan unutk menganalisis dan terjun langsung ke dunia Sastra.



PEMBAHASAN

1.1 Biografi Penulis Novel

Buya Hamka lahir tahun 1908, di desa kampung Molek, Meninjau, Sumatera Barat, dan meninggal di Jakarta 24 Juli 1981. Nama lengkapnya adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah, disingkat menjadi HAMKA.

Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayah kami, atau seseorang yang dihormati.
Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.
HAMKA (1908-1981), adalah akronim kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Beliau adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara. Beliau lahir pada 17 Februari 1908 di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya ialah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah(tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.
Hamka adalah seorang otodidiak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjoparonoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal.
Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, HAMKA merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an lagi, HAMKA menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. HAMKA juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.
Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli.
Hamka pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelaran Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno daripada pemerintah Indonesia.
Hamka telah pulang ke rahmatullah pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Beliau bukan saja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.

1.2 Sekapur Sirih Novel “ Di Bawah Lindungan Ka’bah “
Novel merupakan salah satu bentuk karya sastera prosa. Sebagai sebuah karya sastera, novel juga merupakan salah satu bentuk hasil budaya manusia yang dituntut untuk memenuhi aspek-aspek manfaat suatu hasil budaya. Diantara aspek yang dituntut pada sebuah hasil budaya adalah aspek bagi nilai-nilai kemanusiaan. Terkait dengan hal-hal tersebut, maka tinjauan nilai-nilai kemanusiaan dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka merupakan pengungkapan salah satu fungsi novel sebagai hasil budaya. Telaah terhadap kandungan nilai kemanusiaan pada novel ini dan sejauh penelitian yang telah dilakukan mendapati antara nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah adalah seperti nilai kepentingan agama, nilai kasih sayang, nilai ketabahan hati, nilai simpati, nilai persahabatan yang sejati, nilai kepentingan adat, nilai kepentingan ilmu dan nilai berdikari. Nilai-nilai kemanusiaan ini telah digarab dengan baik oleh hamka bagi menghasilkan sebuah novel yang penuh dengan pengajaran dan teladan bagi setiap yang membacanya. Penerapan nilai-nilai ini adalah untuk memberikan kesedaran dan meningkatkan lagi keperibadian masyarakat Melayu. Manakala nilai-nilai yang negatif haruslah disingkir dari kehidupan sekarang.

ANALISA DAN RUMUSAN KAJIAN


1.1 ANALISIS KESUSASTERAAN
nilai yang dihasilkan melalui :
• Perwatakan watak-watak dalam sebuah cerita
• Peristiwa, kisah, suasana dan unsur-unsur lain.
• Persoalan-persoalan yang disungguhkan dan kemudian mendapatkan pokok persoalannya secara keseluruhan
• Plot cerita
Nilai kepentingan agama, nilai kasih sayang, nilai ketabahan hati, nilai simpati, nilai persahabatan yang sejati, nilai kepentingan adat, nilai kepentingan ilmu dan nilai berdikari
Petikan Novel :
“Setahun sebelum itu telah naik haji pula dua orang yang kenamaan dari negeri kita. Maka tersiarkan keamanan Negeri Hejaz.Karena itu banyak orang yang berniat mencukupkan Rukun Islam yang kelima itu. Tiap-tiap kapal haji yang berangkat menuju Jedah penuh sesak membawa jemaah haji”
Pengaruh aspek agama tak terlepas dari rangkaian alur yang ditulis, nuansa ke-udikan lebih mengalir dalam untaian ini.
”Tidak, Mid, kekuatan ibu dikembalikan Tuhan untuk menyampaikan pembicaraan ini kepadamu.”
”Apakah yang ibu maksudkan?”
”Sebagai seorang yang telah lama hidup, ibu telah mengetahui rahasia pada dirimu.”
”Rahasia apa Ibu?”
”Engkau cinta pada Zainab!”
Nilai kasih sayang tercurahkan dalam alur ini, antara para tokoh. Sosok tokoh utama yang lebih dominan ternyata tidak lepas dari seorang tokoh lain sebagai pengembang alur.
“Belum berapa lama setelah budiman itu menutup mata, datang pula musibah baru kepada diri saya. Ibu saya yang tercinta, yang telah membawa saya menyeberangi hidup bertahun-tahun telah ditimpa sakit”
Nilai kekatan hati berpengaruh besar, cobaan menjadi batu sandungan yang terangkai mendalam.
Dalam novel ini juga, terdapatnya nilai simpati terutamanya terhadap golongan yang miskin. Hal ini dapat dilihat dari watak Haji Ja’far yang begitu baik hati dan rendah diri dalam kehidupannya. Beliau sanggup menyekolahkan Hamid dan menanggung segala perbelanjaan Hamid serta ibunya. Ini menyebabkan Haji Ja’far sangat disenangi oleh Hamid dan ibunya serta masyarakat di sekelilingnya turut memandang tinggi kemurahan hati beliau.
“Pada suatu pagi saya datang ke muka ibu saya dengan perasaan yang sangat gembira, membawa kabar suka yang sangat membesarkan hatinya, yaitu besok Zainab akan diantarkan ke sekolah dan saya dibawa serta. Saya akan disekolahkan dengan belanja Engku Haji Ja’far sendiri bersama-sama anaknya.”
“Mendengar perkataan itu, terlompatlah air mata ibuku karena suka cita, kejadian yang selama ini sangat diharap-harapkannya.”
Dibawah ini petikan tentang bagaimana penulis menggabungkan naluri emanusiaan, antara beberapa insane yang memiliki keterikatan batin.
“Setelah nyata wafatnya, maka dengan tidak menunggu lama, kedua Badui itu memikul mayat itu ke rumah syekh kami. Dan mereka berdualah juga yang mengurus dan memikulnya sampai ke kubur.”
Pada hari itu juga selesailah mayat sahabat yang dikasihi itu dikuburkan di Perkuburan Ma’ala yang masyhur.”
Dunia pendidikan menjadi nilai plus dalam novel ini, rasa suka cita terhadap keberhasilan mendidik anak menjadikan alur berwawasan keilmuan.
“Pada suatu pagi saya datang ke muka ibu saya dengan perasaan yang sangat gembira, membawa kabar suka yang sangat membesarkan hatinya, yaitu besok Zainab akan diantarkan ke sekolah dan saya dibawa serta. Saya akan disekolahkan dengan belanja Engku Haji Ja’far sendiri bersama-sama anaknya.”
“Mendengar perkataan itu, terlompatlah air mata ibuku karena suka cita, kejadian yang selama ini sangat diharap-harapkannya.”
Dimana berpijak, maka bumi kelahiran tetap dijunjung jua, begitu pemakalah menggambarkan pemikiran penulis novel ini, tak terlepas dari sebuah kebiasaan atau adat dari pojok kampung cerita, kesan kedaerahan menjadikan novel ini berada pada jalur kecintaan terhadap tanah lahir.
“Sebagai kau tahu, kita telah pun tamat dari sekolah, maka adat istiadat telah mendindingkan pertemuan kita dengan laki-laki yang bukan mahram, bukan saudara atau famili karib, waktu itulah saya merasai kesepian yang sangat.”
“Yang berasa sedih amat, adalah anak-anak perempuan yang akan masuk pingitan; tamat sekolah bagi mereka artinya suatu sangkar yang telah tersedia buat seekor burung yang bebas terbang.”
“Zainab sendiri, sejak tamat sekolah, telah tetap dalam rumah, didatangkan baginya guru dari luar yang akan mengajarkan berbagai-bagai kepandaian yang perlu bagi anak-anak perempuan, seperti menyuji, merenda, memasak dan lain-lain. Petang hari ia menyambung pelajarannya dalam perkara agama.”
Cerita Datuk Maringgih yang mengawini Siti Nurbaya karena materi yang menjadi penyebab, akan tetapi dalam Novel ini materi menjadi Momok dalam kesetaraan sosal antar kasih sayang dan cinta.
“Hapuskanlah perasaan itu dari hatimu, jangan ditibulkan-timbulkan juga. Engkau tentu memikirkan juga, bahwa emas tak setara dengan Loyang, sutra tak sebangsa dengan benang.”
1.2 RUMUSAN KAJIAN
Nilai merupakan salah satu aspek terpenting tuk menghasilkan sebuah karya karana nilai merupakan sifat dalam pemikiran, agama, kemasyarakat dan sebagainya. Novel Di Bawah Lindungan Ka’bah merupakan sebuah novel yang sarat dengan berbagai nilai yang dipamerkan sama ada nilai-nilai yang positif maupun nilai-nilai yang negatif. Nilai-nilai yang terkandung di dalam novel ini dapat dipertontonkan untuk generasi akan datang bagi melahirkan kesadaran dalam diri generasi sekarang.
nilai positif yang didukung oleh masyarakat pada zaman tersebut jelas menunjukkan bagaimana kehidupan mereka pada masa itu dan nilai hidup inilah yang diwarisi dari nenek moyang ini seterusnya diterapkan ke generasi yang akan datang. Penerapan nilai-nilai ini adalah untuk memberikan kesadaran dan meningkatkan lagi keperibadian masyarakat Indonesia dan Melayu. Manakala nilai-nilai yang negatif haruslah disingkirkan dari kehidupan sekarang.
Secara keseluruhannya, nilai yang positif sebagai gaya hidup yang dipegang oleh sesebuah masyarakat haruslah dicontoh dan dijadikan pegangan bagi generasi muda zaman sekarang


DAFTAR PUSTAKA

Hamka, 1999. Di Bawah Lindungan Ka’bah. Jakarta : PT Bulan Bintang
A.teeuw, Pengantar Sastra
(Diperoleh pada Ogos 27, 2009 daripada laman web Purwantini Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya : http://www.daneprairie.com.)

Sunday, September 25, 2011

Puisi Hati

Seringai Bianglala
Teratai berombak ditepian rindang pohon benalu
Setetes embun terurai lepaskan senandung gelisah
Kuterjatuh lubuk meninjau karang
Hembus kain melambai bianglala
Di atas mendongak arah
Sulit jerami bertanam jamur
Congkak mencangkok di batangku

Lepas rantai kendali melilit
Terhempas sangat tak terarah
Sulit jerami terbakar
Basah – basah pun bebek membelukar
Dimana lubang tak bertuan
Basah rasanya menerawang
Tak tahu siapa yang di atas
gerus... terus... gerus...
Lawan siapa menantang tuk hidup

Malang 25 Sept 2011
Terik Mentari panas