Pages

Thursday, March 1, 2012

Etika
            Istilah etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethos yang memiliki pengertian adat istiadat (kebiasaan), perasaan batin kecenderungan hati untuk melakukan perbuatan.( DRS zahrudin AR, M. M. Si pengantar study akhlak (jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 43. Dalam kamus bahasa indonesia, etika diartikan ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak ( moral).dari pengertian kebahasaan ini terlihat bahwa etika berhubungan dengan upaya menentukan tingkah laku manusia.
            Adapun arti etika dari segi istilah telah dikemukakan para ahli dengan ungkapan yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandangnya. Ahmad amin misalnya mengartikan etika adalah ilmu yang menjelaskanarti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunujukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat. ( Ahmad amin, Etika (ilmu akhlak), (terj) K.H. Farid ma’ruf, dari judul asli al-akhlak, (jakarta: Bulan bintang, 1983), cet III, hlm.3.
            Selanjutnya Soegarda Poerbakawatja mengartikan etika sebagai filsafat nilai, kesusilaan tentang baik-buruk, serta berusaha mempelajari nilai-nilai dan merupakan juga pengetahuan tentang nilai-nilai itu sendiri.( Soegarda poerbakawatja, Ensiklopedi pendidikan, (jakarta: Gunung Agung, 1979), hlm. 138.
            Pengertian etika lebih lanjut dikemukakan oleh Ki hajar Dewantara. Menurutnya etika adalah ilmu yang mempelajari kebaikan (dan keburukan) di dalam hidup manusia semuanya, teristimewa yang mengenai gerak – gerik pikiran yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan sampai mengenai tujuanya yang dapat merupakan perbuatan. Ki Hajar Dewantara, Bagian Pertama Pendidikan, (Yogyakarta: Taman Siswa, 1966), hlm.138.
            Berikutnya dalam Encyclopedia Britanica, Etika dinyatakan sebagai filsafat moral, yaitu study yamg sistematik mengenai sifat dasar dari konsep – konsep nilai baik, buruk, harus, benar, salah, dsb.
            Dari beberapa devinisi etika tersebut di atas dapat segera diketahui bahwa etika berhubungan dengan 4 hal sebagai berikut.
1.      Di lihat dari segi Obyek pembahasanya, etika berupaya membahas perbuatan yang dilakukan manusia.
2.      Dilihat dari segi sumbernya, etika bersumber pada akal pikiran atau filsafat.
3.      Dilihat dari segi fungsinya, etika berfungsi sebagai penilai, penentu dan penetap terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia, yaitu apakah perbuatan tersebut akan dinilai baik, buruk, mulia, terhormat, hina dan sebagainya.
      Dengan demikian etika lebih berperan sebagai konseptor terhadap sejumlah perilaku yang dilaksanakan oleh manusia. Dan etika merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang dilakukan oleh manusia untuk dikatakan baik atau buruk.
Dengan demikian etika sifatnya humanistis an anthropocentis, yakni berdasar pada pemikiran manusia dan diarahkan pada manusia. Dengan kata lain etika adalah aturan atau pola tingkah laku yang dihasilkan oleh akal manusia.

B. MORAL
            Adapun arti moral dari segi bahasa berasal dari bahasa latin, mores yaitu jamak dari kata mos yang berarti adat kebiasaan. ( Asmaran As, Pengantar study akhlak, ( jakarta Rajawali Pers, 1992 ), cet. I, hlm.8. di dalam kamus umum bahasa indonesia dikatakan bahwa moral adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan.( W.J,S. Poerwadarminta, kamus umum bahasa indonesia, op.cit, hlm. 654.
            Selanjutnya moral dalam arti istilah adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak
Dapat dikatakan benar, salah, baik, atau buruk.
            Selanjutnya pengertian moral dijumpai pula dalam the advanced leaner’s dictionary of curent english. Dalam buku ini dikemukakan beberapa pengertian moral sebagai berikut.
1.      Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan benar dan salah, baik dan buruk,
2.      Kemampuan untuk memahami perbedaan antara benar dan salah,
3.      Ajaran atau gambaran tingkah laku yang baik.
            Berdasarkan kutipan tersebut di atas, dapat dipahami bahwa moral adalah istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktifitas manusia dengan nilai (ketentuan) baik atau buruk, benar atau salah. Jika dalam kehidupan sehari-hari dikatakan bahwa orang tersebut bermoral, maka yang dimaksudkan adalah bahwa orang tersebut tingkah lakunya baik.
            Jika pengertian etika dan moral tersebut dihubungkan satu dan lainnya kita dapat mengatakan bahwa antara etika dan moral memiliki objek yang sama, yaitu sama-sama membahas tentang perbuatan manusia untuk selanjutnya ditentukan posisinya apakah baik atau buruk.
            Dengan demikian tolak ukur yang digunakan dalam moral untuk mengukur tingkah laku manusia adalah adat-istiadat, kebiasaan dan lainnya yang berlaku dalam masyarakat.
            Etika dan moral sama artinya tetapi dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit perbedaan. Moral atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan etika dipakai untuk pengkajian sistem nilai yang ada.
            Dalam perkembangan selanjutnya istilah moral sering pula didahului oleh kata kesadaran, sehingga menjadi istilah kesadaran moral. Ahmad charis zubair dalam bukunya berjudul kuliah etika mengatakan bahwa kesadaran moral merupakan faktor penting untuk memungkinkan tindakan manusia selalu bermoral, berperilaku susila, dan perbuatannya selalu sesuai dengan norma yang berlaku.
Orang yang memiliki kesadaran moral akan senantiasa jujur. Sekalipun tidak ada orang lain yang melihatnya, tindakan orang yang bermoral tdan selalu berpwgangidak akan menyimpang, dan selalu berpegang pada nilai-nilai tersebut. Hal ini terjadi karena tindakan orang yang bermoral itu berdasarkan atas kesadaran, bukan berdasar pada sesuatu kekuatan apapun dan juga bukan karena paksaan, tetapi berdasarkan kesadaran moral yang timbul dari dalam diri yang bersangkutan.
            Dan dalam kesadaran moral itu mencakup tiga hal. Pertama perasaan wajib atau keharusan untuk melakukan tindakan yang bermoral.
Kedua kesadaran moral dapat juga berwujud rasional dan obyektif, yaitu suatu perbuatan yang secara umum dapat diterima oleh masyarakat, sebagai hal yang obyektif dan dapat diberlakukan secara universal, artinya dapat disetujui, berlaku pada setiap waktu dan tempat bagi setiap orang yang berada dalam situasi yand sejenis.
Ketiga, kesadaran moral dapat pula muncul dalam bentuk kebebasan. Atas kesadaran moralnya seseorang bebas untuk mentaatinya. ( Ahmad Charris Zubair, op.cit, hlm. 54-55 ).
            Berdasarkan pada uraian tersebut kita dapat menyimpulkan, bahwa moral lebih mengacu kepada suatu nilai atau sistem hidup yang dilaksanakan atau diberlakukan oleh masyarakat. Nilai atau sistem hidup tersebut diyakini oleh masyarakat sebagai yang akan memberikan harapan munculnya kebahagiaan dan ketenteraman. Jika nilai-nilai tersebut telah mendarah daging dalam diri seseorang maka akan membentuk kesadaran moralnya sendiri. Orang yang demikian akan dengan mudah dapat melakukan suatu perbuatan tanpa harus ada dorongan atau paksaan dari luar. Orang yang demikian adalah orang yang memiliki kesadaran moral, atau orang yang telah bermoral.

C. HUBUNGAN ETIKA DAN MORAL
           
            Dilihat dari fungsi dan perannya, dapat dikatakan bahwa etika dan moral sama, yaitu menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan yamg dilakukan manusia untuk ditentukan baik buruknya. Kesemuanya sama-sama menghendaki terciptanya keadaan masyarakat yang baik, teratur, aman, damai, dan tentram sehingga sejahtera batuniah dan lahiriah.

D.ESTETIKA MANUSIA DALAM BERBUDAYA
            Estetika dapat dikatakan sebagai teori tentang keindahan atau seni. Estetika berkaitan dengan nilai indah-jelek ( tidak indah ). Nilai estetika berarti nilai tentang keindahan.
Jika estetika dibandingkan dengan etika, maka etika berkaitan dengan nilai tentang baik-buruk, sedangkan estetika berkaitan dengan hal yang indah-jelek. Sesuatu yang estetik berarti memenuhi unsur keindahan, budaya yang estetik berarti budaya itu memiliki unsur keindahan.
            Budaya sebagai hasil karya manusia sesungguhnya diupayakan untuk memenuhi unsur keindahan. Manusia sendiri memang suka akan keindahan. Di sinilah manusia berusaha berestetika dalam berbudaya. Semua kebudayaan pastilah dipandang memiliki nilai-nilai estetik bagi masyarakat penduduk budaya tersebut. Hal-hal yang indah dan kesukaannya pada keindahan diwujudkan dengan menciptakan aneka ragan budaya. Namun suatu produk budaya yang dipandang indah oleh masyarakat pemiliknya belum tentu indah bagi masyarakat budaya lain.
            Oleh karena itu, estetika berbudaya tidak semata-mata dalam berbudaya harus memenuhi nilai-nilai keindahan. Lebih dari itu, estetika berbudaya menyiratkan perlunya manusia untuk menghargai keindahan budaya yang dihasilkan manusia lainnya. Dan estetika berbudaya mampu memecah sekat-sekat kebekuan, ketidakpercayaan, kecurigaan, dan rasa inferioritas antarbudaya.

Melestarikan Budaya Membaca


Ketika kita tanpa sengaja melihat buku bacaan bergambar di depan kita, kita seolah terbawa arus memori masa lalu tergambar jelas, disaat kita beranjak tumbuh dewasa, betapa senang dan bahagianya dimasa kecil kita dihiasi dengan membaca, tanpa diperintah  kita membolak balik halaman demi halaman untuk memperoleh pengetahuan didalamnya, apalagi bacaan yang mengandung kisah jenaka, semacam Si Kancil mencuri timun dan cerita jenaka yang lainnya, pikiran kita melayang jauh di masa lalu penuh canda tawa, setelah masa kecil berlalu, budaya membaca semakin langka, adakalanya membaca karena terpaksa, demi menyelesaikan tugas kuliah atau mencari materi tentang sesuatu yang memang dibutuhkan di saat itu, sehingga merasa cukup setelah selesai mendapatkannya.
Dibutuhkan kesadaran dalam memupuk dan melestarikan budaya membaca ini, suatu langkah dalam mencari dan memperoleh suatu hal yang baru, mengolah dan menciptakan peluang untuk berkembang menjadi maju, membaca menjadikan kita lebih peka terhadap perkembangan pengetahuan, kadang kala kita tidak menyadarinya, dengan membaca otak kita bekerja untuk merekam hal baru yang kita terima, sehingga banyak hal-hal baru yang terserap dalam memori otak kita dan membuat ilmu kita terus bertambah, jadikanlah budaya membaca mengisi hari-hari kita. Suatu kegiatan yang sangat bermanfaat bagi kita, kita bisa memulai dari diri kita sendiri, bagaimana kita menjadikan budaya membaca adalah kebutuhan untuk menambah pengetahuan yang kita miliki,ketika kita membaca dan memperolah pengetahuan yang baru maka otak akan mengolah hasil bacaan kita, kemudian menyimpannya didalam otak kita.
Berbagai buku bacaan sangat mudah kita peroleh di saat ini, berbagai macam buku terjemahan dari para penulis terkenal bisa dengan mudah kita dapati, di berbagai perpustakaan terdapat berbagai bagai macam buku pengetahuan baik yang ditulis oleh penulis lokal ataupun luar negeri, sungguh malang nasib buku-buku tersebut jika masih berjajar rapi dan hanya dihiasi debu kotor, kadang kala hanya sebagai pajangan saja, sungguh ironis sekali melihat kenyataan yang terjadi seperti sekarang ini, buku-buku yang mengandung kekayaan intelektualitas penulisnya terbengkalai tanpa kita tahu isi didalamnya, seolah buku itu tidak berguna,disebabkan karena kita malas membaca, kenyataan seperti ini mengikis habis budaya gemar membaca yang sangat bermanfaat bagi kita semua. Sudah saatnya bagi kita semua, memupuk dan melestarikan budaya membaca agar tidak terkikis habis, membaca membawa kita menembus tebalnya cakrawala pengetahuan dunia, dengan membaca dunia kita akan semakin luas, dunia kita akan semakin menjalar ke seantero bangsa, hanya dengan membaca kita bisa menggenggam peradaban dunia, budaya membaca membawa kita menambah wawasan pengetahuan kita.
Dari tahun ke tahun semakin banyak media untuk mempermudah kita untuk membaca, tidak hanya buku saja, sekarang  sudah kita kenal dengan buku digital atau istilahnya ebook, dengan menggunakan ebook ini kita memiliki fasilitas yang mempermudah kita dalam membaca, didalamnya bisa menyimpan atau menjadi perpustakaan buku digital, kita bisa memilih buku apa yang akan kita baca dengan mudahnya, sehingga begitu efektif untuk membaca berbagai buku dalam bentuk digital tanpa harus membawa buku aslinya. Walaupun tidak semua buku versi aslinya ada dalam bentuk digital dan tidak semua orang memiliki ebook karena mungkin belum terjangkau oleh beberapa kalangan dari kita.
Ketika peradaban Eropa diselimuti kegelapan, para bangsawan Eropa berbondong-bondong menerjemahkan kitab-kitab dari penulis terkenal dari belahan dunia lainnya, seperti Ibnu Sina, Aljabar dan lainnya, yang tak lain adalah ilmuwan Muslim yang terkenal saat itu karena berhasil mencapai masa keemasan ilmu pengetahuan di saat itu. Terjemahan kitab-kitab kedalam bahasa latin itu kemudian disebarkan ke penjuru Eropa untuk dibaca dan dipelajari sehingga sedikit demi sedikit bangsa Eropa bisa bangkit dari masa kegelapan dan menjadi bangsa yang besar dan berpengaruh di masa kini.
Banyak diantara kita yang sulit membaca bukan karena faktor buta huruf, akan tetapi disebabkan malas atau semacamnya, selama kita bisa memahami dan mengerti akan manfaat membaca buat diri kita, maka sepantasnya kita harus berusaha memupuk kesadaran membaca kita agar tidak mudah luntur, sehingga budaya membaca terpelihara dan kita menularkannya kepada keluarga, kerabat dan rekan kerja demi melestarikan budaya membaca bagi kepentingan bersama, berbagai usaha telah dilakukan pemerintah untuk memupuk budaya membaca kepada masyarakat, dengan di luncurkannya perpustakaan keliling, untuk mempermudah masyarakat mengaksesnya, berbagi macam buku bacaan dipinjamkan secara gratis untuk masyarakat, supaya kegiatan gemar membaca mewabah diantara masyarakat kita, dan hasilnya masyarakat kita memperoleh pengetahuan yang baru dengan kegiatan membaca ini, marilah kita bersama-sama bahu membahu memupuk kesadaran membaca dan melestarikannya sedari dini.

Daerah ( Tanpa) Wisata

Motto Visit Indonesia banyak terpampang di berbagai pojok reklame tanah air, mulai dari bandara,stasiun hingga terminal bus di berbagai pelosok kota di Tanah Air , slogan ini bukan hanya ungkapan kosong melompong, melainkan ajakan untuk menyuarakan keberagaman, keindahan dan kekayaan Tanah air tercinta ini.
Indonesia merupakan salah satu wajah pariwisata dunia saat ini, siapa yang tidak kenal Indahnya candi Borobudur sebagai warisan leluhur kita, Danau toba di Sumatera dan keindahan laut Bunaken di sulawesi, tentu juga dengan eksotisme pulau dewata bali, dan berbagai tempat pariwisata yang lainnya yang tersebar di pelosok negeri ini.
Jawa Timur adalah salah satu dari propinsi di Indonesia yang ikut menggalakkan pariwisata tanah air, tentu saja dengan berbagai objek pariwisata andalannya, yaitu Kota wisata Batu. dan daerah tujuan wisata lain di pelosok Jawa Timur, salah satunya di Kabupaten Bondowoso.
Kabupaten Bondowoso terletak di kawasan tapal kuda Propinsi Jawa Timur, daerahnya dikelilingi oleh pegunungan yang hijau dan kawasan pemandangan gunung yang Indah, salah satunya di tempat wisata pemandangan alam arak-arak, dan tempat yang tak kalah eksotisnya wisata gunung kawah ijen yang tersohor hingga penjuru dunia.tidak asing jika masyarakat bondowoso sering menjumpai wisatawan mancanegara singgah di kota ini.akan tetapi masyarakat local lebih mengenal Kabupaten Bondowosol dengan ciri khas makanannya yaitu tape Bondowoso.
tempat-tempat wisata yang tersebar di wilayah ini mempunyai harga jual tersendiri bagi para wisatawan, baik local maupun mancanegara. potensi keindahan dan kealamiannya tidak diragukan lagi, akan tetapi masih banyak tempat-tempat wisata yang terbengkalai dan tidak terurus, seperti halnya wisata Tancak kembar. mulai dari segi infrastruktur dan juga perawatannya tidak diimbangi dengan prospek pariwisata itu sendiri.
baik pemerintah maupun masyarakat sekitar tidak menyadari potensi ini, baik dari segi ekonomi dan pengembangan budaya. pemerintah sendiri hanya sedikit membaca peluang potensi wisata disekitarnya, demikian juga masyarakat seakan berdiam diri dan tak mengindahkan keberadaan tempat-tempat wisata di sekitar mereka.
dalam hal ini pemerintah sebagai tonggak pelestarian dunia pariwiata itu sendiri harus andil, baik dengan melakukan sosialisasi berkala terhadap masyarakat sekitar, sehingga bisa mengubah cara pandang masyarakat terhadap pentingnya tempat-tempat pariwisata di sekeliling mereka, tidak hanya memandang dari segi keuntungan ekonomi semata, akan tetapi pelestarian dan pengembangan budaya yang ada di sekitar, bisa dikembangkan dan diangkat untuk menjadi objek wisata budaya yang membanggakan untuk bangsa ini.
sedari dini mungkin pemerintah mengadakan sosialisasi akan pentingnya potensi tempat-tempat wisata di sekitar terhadap masyarakat,sehingga mereka tergerak untuk ikut andil dan bertanggung jawab untuk mengembangkan dan menjaganya.