Tuesday, March 27, 2012
Lunturnya Budaya Membaca
Ketika kita tanpa sengaja melihat buku bacaan bergambar di depan kita, bayangan kita seolah terbawa arus memori masa lalu yang tergambar jelas, disaat kita beranjak tumbuh dewasa, betapa senang dan bahagianya dimasa kecil kita dihiasi dengan membaca, tanpa diperintah kita membolak balik halaman demi halaman untuk memperoleh pengetahuan didalamnya, apalagi bacaan yang mengandung kisah jenaka, semacam Si Kancil mencuri timun dan cerita jenaka yang lainnya, pikiran kita melayang jauh di masa lalu yang penuh canda dan tawa, setelah masa kecil berlalu, budaya membaca semakin langka, adakalanya membaca karena terpaksa, demi menyelesaikan tugas kuliah atau mencari materi tentang sesuatu yang memang dibutuhkan di saat itu, sehingga merasa cukup setelah selesai mendapatkannya. Dibutuhkan kesadaran dalam memupuk dan melestarikan budaya membaca ini, suatu langkah dalam mencari dan memperoleh suatu hal yang baru, mengolah dan menciptakan peluang untuk berkembang menjadi maju, membaca menjadikan kita lebih peka terhadap perkembangan pengetahuan, kadang kala kita tidak menyadarinya, dengan membaca otak kita bekerja untuk merekam hal baru yang kita terima, sehingga banyak hal-hal baru yang terserap dalam memori otak kita dan membuat ilmu kita terus bertambah, jadikanlah budaya membaca mengisi hari-hari kita. Suatu kegiatan yang sangat bermanfaat bagi kita, kita bisa memulai dari diri kita sendiri, bagaimana kita menjadikan budaya membaca adalah kebutuhan untuk menambah pengetahuan yang kita miliki,ketika kita membaca dan memperoleh pengetahuan yang baru maka otak akan mengolah hasil bacaan kita, kemudian menyimpannya didalam otak kita untuk diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Berbagai buku bacaan sangat mudah kita peroleh saat ini, berbagai macam buku terjemahan dari para penulis terkenal bisa dengan mudah kita dapati, di berbagai perpustakaan terdapat berbagai bagai macam buku pengetahuan baik yang ditulis oleh penulis lokal ataupun luar negeri, sungguh malang nasib buku-buku tersebut jika masih berjajar rapi dan hanya dihiasi debu kotor, kadang kala hanya sebagai pajangan saja, sungguh ironis sekali melihat kenyataan yang terjadi seperti sekarang ini, buku-buku yang mengandung kekayaan intelektualitas penulisnya terbengkalai tanpa kita tahu isi kandungan ilmu didalamnya, seolah buku itu tidak berguna,disebabkan karena kita malas membaca, kenyataan seperti ini mengikis habis budaya gemar membaca yang sangat bermanfaat bagi kita semua. Sudah saatnya bagi kita semua, memupuk dan melestarikan budaya membaca agar tidak terkikis habis, membaca membawa kita menembus luasnya cakrawala pengetahuan dunia, dengan membaca kita bisa menggenggam peradaban dunia, budaya membaca membawa kita menambah wawasan pengetahuan kita. Dari tahun ke tahun semakin banyak media untuk mempermudah kita untuk membaca, tidak hanya buku saja, diantaranya kita mengenal buku digital atau kata istilahnya ebook, dengan menggunakan ebook ini kita memiliki fasilitas yang mempermudah kita dalam membaca, didalamnya bisa menyimpan atau menjadi perpustakaan buku digital, kita bisa memilih buku apa yang akan kita baca dengan mudahnya, sehingga begitu efektif untuk membaca berbagai buku dalam bentuk digital tanpa harus membawa buku aslinya. Walaupun tidak semua buku versi aslinya ada dalam bentuk digital dan tidak semua orang memiliki ebook karena mungkin belum terjangkau oleh beberapa kalangan dari kita. Ketika peradaban Eropa diselimuti kegelapan, para bangsawan Eropa berbondong-bondong menerjemahkan kitab-kitab dari penulis terkenal dari belahan dunia lainnya, seperti Ibnu Sina, Aljabar dan lainnya, yang tak lain adalah ilmuwan Muslim yang terkenal saat itu karena berhasil mencapai masa keemasan ilmu pengetahuan dan menghasilkan karya intelektualitas yang tinggi. Terjemahan kitab-kitab kedalam bahasa latin itu kemudian disebarkan ke penjuru Eropa untuk dibaca dan dipelajari sehingga sedikit demi sedikit bangsa Eropa bisa bangkit dari masa kegelapan dan menjadi bangsa yang besar dan berpengaruh di masa kini. Banyak diantara kita yang sulit membaca bukan karena faktor buta huruf, akan tetapi disebabkan malas atau semacamnya, selama kita bisa memahami dan mengerti akan manfaat membaca buat diri kita, maka sepantasnya kita harus berusaha memupuk kesadaran membaca kita agar tidak mudah luntur, sehingga budaya membaca terpelihara dan kita menularkannya kepada keluarga, kerabat dan rekan kerja demi melestarikan budaya membaca bagi kepentingan bersama, berbagai usaha telah dilakukan pemerintah untuk memupuk budaya membaca kepada masyarakat, dengan di luncurkannya perpustakaan keliling, untuk mempermudah masyarakat mengaksesnya, berbagi macam buku bacaan dipinjamkan secara gratis untuk masyarakat, supaya kegiatan gemar membaca mewabah diantara masyarakat kita, dan hasilnya masyarakat kita memperoleh pengetahuan yang baru dengan kegiatan membaca ini, marilah kita bersama-sama bahu membahu memupuk kesadaran membaca dan melestarikannya sedari dini.
Labels:
Artikel Sosial
Mahasiswa BSA Jalani Ujian Skripsi
Ujian skripsi pada bulan ini, hari senin tertanggal 26 maret 2012 dilaksanakan bagi mahasiswa jurusan bahasa dan sastra arab hingga tiga hari kedepan, ujian skripsi kali ini diikuti sekitar 14 mahasiswa tingkat akhir yang telah menyelesaikan seminar proposal dan ujian kompherensif, terdiri dari 11 mahasiswa/i angkatan 2008 dan sisanya mahasiswa angkatan diatasnya yang belum menyelesaikan ujian skripsi. Bertempat di Kantor Jaminan Mutu (KJM) Lt. 2 Fakultas Humaniora dan Budaya, ujian skripsi dibagi atas dua ruang, ruang pertama terdiri dari Ust. Marzuki Mustamar, Ust. Sony Fauzi dan Ust. Wildana Wargadinata sebagai penguji utama, ruang kedua diisi oleh Ust. Faisol Fatawi, Ust. Aunul Hakim dan Ustd. Muasshomah.
Suasana tampak begitu tegang, hal itu bisa dilihat dari raut wajah beberapa mahasiswa peserta ujian skripsi, tampak perasaan gugup, cemas, khawatir bahkan agak tegang, mungkin sebagai pengalaman pertama kali ataupun ujian skripsi dinilai sebagai tantangan yang sangat menguji adrenalin peserta mengingat disinilah saatnya mereka membuktikan jerih payahnya selama menempuh pendidikan strata satu, bahkan nasib nilai akademisnya dipertaruhkan, baik buruknya usaha mereka tergantung seberapa matang mereka mempersiapkan materi dalam ujian skripsi kali ini.
Salah seorang mahasiswi yang ikut berjuang dalam ujian skripsi, sebut saja Erni Sulistiya panggilan sehari-harinya, dia menuturkan awalnya agak nervous, perasaan khawatir tidak karuan, tegang. Akan tetapi kesan itu hilang sesaat setelah mengikuti ujian skripsi, hal itu karena apa yang saya bayangkan sebelumnya hilang begitu mengetahui ujian skripsi seperti kegiatan sharing atau bertukar ilmu didalamnya, jadinya enjoy begitu mengikuti ujian skripsi, mengingat saya persiapkan materi yang akan diujikan dengan sangat matang. Begitu komentarnya mengenai pengalaman pertama mengikuti ujian skripsi. Tidak begitu dengan salah seorang mahasiswi yang tidak mau disebutkan namanya, dia terlihat meneteskan air mata, air mata penuh tanda tanya karena tidak diketahui pasti apakah dia bersedih atau malah bahagia karena telah menyelesaikan ujian skripsi.
Salah seorang penguji utama, Ust. Marzuki Mustamar ketika ditanyai komentar mengenai jalannya ujian skripsi kali ini, beliau menuturkan bahwa mahasiswa dharapkan serius, bersungguh-sungguh dan berperilaku jujur dalam mengikuti ujian skripsi, etika mahasiswa seperti itu haruslah diterapkan, mempersiapkan materi yang akan diujikan secara matang, penguasaan materi sangat penting dalam mengikuti ujian skripsi. Begitupun juga dengan dosen penguji utama diharapkan tidak membedakan mahasiswa antara satu dengan yang lain, jujur, serius dan juga objektif, sehingga tidak mempengaruhi nilai akademis mahasiswa tersebut. Begitu komentar yang beliau berikan. Ketika beliau ditanya mengenai kemampuan mahasiswa yang mengikuti ujian skripsi, beliau berpendapat bahwa beberapa mahasiswa lemah dalam penguasaan materi, penguasaan metode dan analisa dalam menulis, juga kebahasaan, jadi kedepan harus diperbaiki lagi.(gs)
Suasana tampak begitu tegang, hal itu bisa dilihat dari raut wajah beberapa mahasiswa peserta ujian skripsi, tampak perasaan gugup, cemas, khawatir bahkan agak tegang, mungkin sebagai pengalaman pertama kali ataupun ujian skripsi dinilai sebagai tantangan yang sangat menguji adrenalin peserta mengingat disinilah saatnya mereka membuktikan jerih payahnya selama menempuh pendidikan strata satu, bahkan nasib nilai akademisnya dipertaruhkan, baik buruknya usaha mereka tergantung seberapa matang mereka mempersiapkan materi dalam ujian skripsi kali ini.
Salah seorang mahasiswi yang ikut berjuang dalam ujian skripsi, sebut saja Erni Sulistiya panggilan sehari-harinya, dia menuturkan awalnya agak nervous, perasaan khawatir tidak karuan, tegang. Akan tetapi kesan itu hilang sesaat setelah mengikuti ujian skripsi, hal itu karena apa yang saya bayangkan sebelumnya hilang begitu mengetahui ujian skripsi seperti kegiatan sharing atau bertukar ilmu didalamnya, jadinya enjoy begitu mengikuti ujian skripsi, mengingat saya persiapkan materi yang akan diujikan dengan sangat matang. Begitu komentarnya mengenai pengalaman pertama mengikuti ujian skripsi. Tidak begitu dengan salah seorang mahasiswi yang tidak mau disebutkan namanya, dia terlihat meneteskan air mata, air mata penuh tanda tanya karena tidak diketahui pasti apakah dia bersedih atau malah bahagia karena telah menyelesaikan ujian skripsi.
Salah seorang penguji utama, Ust. Marzuki Mustamar ketika ditanyai komentar mengenai jalannya ujian skripsi kali ini, beliau menuturkan bahwa mahasiswa dharapkan serius, bersungguh-sungguh dan berperilaku jujur dalam mengikuti ujian skripsi, etika mahasiswa seperti itu haruslah diterapkan, mempersiapkan materi yang akan diujikan secara matang, penguasaan materi sangat penting dalam mengikuti ujian skripsi. Begitupun juga dengan dosen penguji utama diharapkan tidak membedakan mahasiswa antara satu dengan yang lain, jujur, serius dan juga objektif, sehingga tidak mempengaruhi nilai akademis mahasiswa tersebut. Begitu komentar yang beliau berikan. Ketika beliau ditanya mengenai kemampuan mahasiswa yang mengikuti ujian skripsi, beliau berpendapat bahwa beberapa mahasiswa lemah dalam penguasaan materi, penguasaan metode dan analisa dalam menulis, juga kebahasaan, jadi kedepan harus diperbaiki lagi.(gs)
Labels:
Informasi
Menggugah Hasrat Ingin Tahu
Ada ungkapan”use it or loose it” yang jika kata itu ditujukan kepada kita artinya kurang lebih ‘pergunakan apa yang kau miliki atau kau akan kehilangan fungsinya’. Setiap manusia lahir dengan organ fisik yang memiliki fungsi tertentu demi menunjang eksistensinya. Organ itu, dalam bahasa keseharian kita disebut panca indra, yang terdiri dari mata, telinga, hidung,lidah, dan kulit. Panca berasal dari bahasa Sanskerta (paƱca) yang artinya lima. Demikian indra luar yang dimiliki manusia sebagai alat mengetahui dan berkomunikasi dengan yang di luar dirinya di atas ada lima.
Kelima indra di atas memilki fungsinya masing-masing untuk menunjang keberadaan manusia dan meningkatkan eksistensinya. Mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk menghirup, lidah untuk mengetahui rasa, dan kulit untuk meraba. Bila satu dari lima indra itu tidak ada, berarti ada bagian yang kurang untuk menunjang perannya. Namun bukan berarti orang yang memiliki organ kurang lengkap tersebut juga kurang perannya atau kurang optimal keberadaannya. Tuhan Maha Adil dan Maha Bijaksana, dengan sifat adil-Nya, orang yang memiliki kekurangan pada bagian tertentu akan dilebihkan kemampuan fungsi organ yang lain. Misalnya, seseorang memiliki pandangan yang agak terbatas bahkan buta, ia akan memiki sensivitas lebih untuk pendengaran dan perabaannya. Namun demikian, kemampuan yang ada pada organ itu tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus belajar dan dilatih. Dalam proses belajar dan berlatih itu pasti akan mengalami kelelahan. Dan, jika berputus asa atau tidak dipergunakan dengan benar, indra itu akan kehilangan daya gunanya
Semua manusia lahir dalam keadaan terbatas, meskipun organ tubuhnya lengkap, tentu saja semuanya belum bisa berfungsi dengan benar. Tentu saja, agar dapat berfungsi dengan benar harus belajar. Masa pembelajaran masing-masing orang berbeda, karena kemampuan dasarnya memang berbeda. Model dan sistemnya yang sesuai dengan konstruksi tubuhnya mungkin juga berbeda, karena alam lingkungan tempat hidupnya berbeda. Demikian juga kemampuan paling optimal setiap orang berbeda sebab dari “sana” memang diberi “bekal” kemampuan yang berbeda. Tapi tidak ada orang yang sungguh-sungguh tahu bekal dari sana tersebut, kecuali dari gejala yang ditampakkan oleh yang punya dan kemudian dilatih secara optimal pula. Setelah upayanya optimal, hasil yang didapat tidak salah kalau disebut titik maksimal kemampuan atau taqdirnya .
Hidup ini akan menjadi baik dan terus membaik jika kemampuan organ itu difungsikan.Dalam hal ini, bukankah Alquran telah menegaskan supaya manusia mengamati fenomena dan apa yang terjadi di sekitarnya, untuk kemudian menjadikan apa yang terjadi dan diamanati tersebut sebagai guru. Barangkali ungkapan pengalaman adalah guru yang paling baik (bijaksana ) diambil dari dasar filosofi bahwa manusia harus mengamati yang ada di sekelilingnya. Hanya saja, pengamatan yang digalakkan oleh kaum rasional yang positivis menafikan fungsi hati, sementara Alquran member perintah agar menfunsikannya. Dalam bahasa Alquran, jika mata dan telinga tidak digunakan sama halnya dengan tidak memilikinya. Lebih parah jika seseorang menutup akses hati untuk bisa mengerti, ia lebih hina daripada binatang.
Mengamati sekitar adalah kerja awal penelitian dan setiap orang pada dasarnya adalah pengamat dan peneliti. selama seseorang ingin terus bertahan hidup ia harus mengamati apa yang terjadi di sekitarnya. Begitu juga, dengan tanpa mengamati orang akan terus terjatuh tanpa bisa bangun dan berkembang. Bukankah, ketika seorang anak muda yang hendak mengungkapkan cinta kepada seseorang harus melakukan pengamatan terlebih dulu. Lalu terkait dengan pengungkapan cintanya , ia harus memperhatikan pula kapan dan bagaimana cara yang tepat. Tanpa melakukan pengamatan, pasti cintanya akan kesasar atau berlabuh di tempat yang keliru. Sasaran yang keliru, ungkapan yang kurang simpati, dan waktu yang kurang tepat merupakan akibat dari kurangnya pengamatan, yang dengan bahasa lain bisa dikatakan miskinnya kemampuan meneliti.
Meneliti bukanlah pekerjaan susah, tapi bila tidak bisa melakukan penelitian orang akan diliputi rasa susah. Sebagai insan akademis, kita harus “mentakdirkan” diri sebagai peneliti. Hanya saja, penelitian selama ini terlalu ditekankan pada metodologi yang baku dan kaku padahal cara pandang dan cara memahami ilmu yang terkait dengan paradigma, teori, dan pendekatan itu selalu tidak sama antara satu tokoh dengan dengan tokoh lainnya. Seperti upaya mendefinisikan suatu obyek misalnya, demikian pula cara memahami sebuah teori atau pendekatan yang terkait dengan obyek tersebut, setiap kepala memiliki isi dan konsep sendiri-sendiri. Oleh karena itu, untuk mengembangkan kemampuan penelitian, yang terpenting terlebih dulu adalah mau membuat usulan (proposal) penelitian.
Pemahaman yang terkait metodologi dan cara penerapannya akan diperoleh dengan benar dan berkembang dengan benar pula jika sudah praktik melakukan kerja yang disebut penelitian itu. Kalau disadari setiap manusi pada awalnya lahir tanpa kemampuan apapun kecuali bernafas, lalu berkat belajar dan latihan ia memiliki skill yang mumpuni di bidang yang digeluti, kenapa masih juga tidak mau melakukan sesuatu (apapun yang positif) hanya karena kwatir salah .
Benar memang, bahwa semua kemampuan itu pasti didasari oleh keinginan. Keinginan adalah rasa yang terkandung di jiwa yang merupakan respon atas sesuatu, baik yang berupa benda fisik maupun yang bersifat non-fisik. Bila rasa ingin itu tidak ada, mustahil orang mau melakukan sesuatu. Maka kewajiban kita saat ini adalah memancing rasa ingin itu. Terkait dengan penelitian, perlu dirangsang rasa ingin tahu kita terhadap kebenaran suatu obyek. Kebenaran di sini, tentunya bukan kebenaran yang hakiki, namun hanya kebenaran ilmiah, yaitu kebenaran yang memenuhi kaidah-kaidah ilmu pengetahuan. Meskipun demikian, tetap saja ia subjektif. Namun dalam dunia penelitian, subyektivitas setelah melakukan prosedur ilmiah yang benar adalah subyektivitas yang bisa dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, sifat kebenarannya tetap disebut objektif.
Ahmad Kholil,
Sekretaris Unit Penelitian
Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Malang
Kelima indra di atas memilki fungsinya masing-masing untuk menunjang keberadaan manusia dan meningkatkan eksistensinya. Mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk menghirup, lidah untuk mengetahui rasa, dan kulit untuk meraba. Bila satu dari lima indra itu tidak ada, berarti ada bagian yang kurang untuk menunjang perannya. Namun bukan berarti orang yang memiliki organ kurang lengkap tersebut juga kurang perannya atau kurang optimal keberadaannya. Tuhan Maha Adil dan Maha Bijaksana, dengan sifat adil-Nya, orang yang memiliki kekurangan pada bagian tertentu akan dilebihkan kemampuan fungsi organ yang lain. Misalnya, seseorang memiliki pandangan yang agak terbatas bahkan buta, ia akan memiki sensivitas lebih untuk pendengaran dan perabaannya. Namun demikian, kemampuan yang ada pada organ itu tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus belajar dan dilatih. Dalam proses belajar dan berlatih itu pasti akan mengalami kelelahan. Dan, jika berputus asa atau tidak dipergunakan dengan benar, indra itu akan kehilangan daya gunanya
Semua manusia lahir dalam keadaan terbatas, meskipun organ tubuhnya lengkap, tentu saja semuanya belum bisa berfungsi dengan benar. Tentu saja, agar dapat berfungsi dengan benar harus belajar. Masa pembelajaran masing-masing orang berbeda, karena kemampuan dasarnya memang berbeda. Model dan sistemnya yang sesuai dengan konstruksi tubuhnya mungkin juga berbeda, karena alam lingkungan tempat hidupnya berbeda. Demikian juga kemampuan paling optimal setiap orang berbeda sebab dari “sana” memang diberi “bekal” kemampuan yang berbeda. Tapi tidak ada orang yang sungguh-sungguh tahu bekal dari sana tersebut, kecuali dari gejala yang ditampakkan oleh yang punya dan kemudian dilatih secara optimal pula. Setelah upayanya optimal, hasil yang didapat tidak salah kalau disebut titik maksimal kemampuan atau taqdirnya .
Hidup ini akan menjadi baik dan terus membaik jika kemampuan organ itu difungsikan.Dalam hal ini, bukankah Alquran telah menegaskan supaya manusia mengamati fenomena dan apa yang terjadi di sekitarnya, untuk kemudian menjadikan apa yang terjadi dan diamanati tersebut sebagai guru. Barangkali ungkapan pengalaman adalah guru yang paling baik (bijaksana ) diambil dari dasar filosofi bahwa manusia harus mengamati yang ada di sekelilingnya. Hanya saja, pengamatan yang digalakkan oleh kaum rasional yang positivis menafikan fungsi hati, sementara Alquran member perintah agar menfunsikannya. Dalam bahasa Alquran, jika mata dan telinga tidak digunakan sama halnya dengan tidak memilikinya. Lebih parah jika seseorang menutup akses hati untuk bisa mengerti, ia lebih hina daripada binatang.
Mengamati sekitar adalah kerja awal penelitian dan setiap orang pada dasarnya adalah pengamat dan peneliti. selama seseorang ingin terus bertahan hidup ia harus mengamati apa yang terjadi di sekitarnya. Begitu juga, dengan tanpa mengamati orang akan terus terjatuh tanpa bisa bangun dan berkembang. Bukankah, ketika seorang anak muda yang hendak mengungkapkan cinta kepada seseorang harus melakukan pengamatan terlebih dulu. Lalu terkait dengan pengungkapan cintanya , ia harus memperhatikan pula kapan dan bagaimana cara yang tepat. Tanpa melakukan pengamatan, pasti cintanya akan kesasar atau berlabuh di tempat yang keliru. Sasaran yang keliru, ungkapan yang kurang simpati, dan waktu yang kurang tepat merupakan akibat dari kurangnya pengamatan, yang dengan bahasa lain bisa dikatakan miskinnya kemampuan meneliti.
Meneliti bukanlah pekerjaan susah, tapi bila tidak bisa melakukan penelitian orang akan diliputi rasa susah. Sebagai insan akademis, kita harus “mentakdirkan” diri sebagai peneliti. Hanya saja, penelitian selama ini terlalu ditekankan pada metodologi yang baku dan kaku padahal cara pandang dan cara memahami ilmu yang terkait dengan paradigma, teori, dan pendekatan itu selalu tidak sama antara satu tokoh dengan dengan tokoh lainnya. Seperti upaya mendefinisikan suatu obyek misalnya, demikian pula cara memahami sebuah teori atau pendekatan yang terkait dengan obyek tersebut, setiap kepala memiliki isi dan konsep sendiri-sendiri. Oleh karena itu, untuk mengembangkan kemampuan penelitian, yang terpenting terlebih dulu adalah mau membuat usulan (proposal) penelitian.
Pemahaman yang terkait metodologi dan cara penerapannya akan diperoleh dengan benar dan berkembang dengan benar pula jika sudah praktik melakukan kerja yang disebut penelitian itu. Kalau disadari setiap manusi pada awalnya lahir tanpa kemampuan apapun kecuali bernafas, lalu berkat belajar dan latihan ia memiliki skill yang mumpuni di bidang yang digeluti, kenapa masih juga tidak mau melakukan sesuatu (apapun yang positif) hanya karena kwatir salah .
Benar memang, bahwa semua kemampuan itu pasti didasari oleh keinginan. Keinginan adalah rasa yang terkandung di jiwa yang merupakan respon atas sesuatu, baik yang berupa benda fisik maupun yang bersifat non-fisik. Bila rasa ingin itu tidak ada, mustahil orang mau melakukan sesuatu. Maka kewajiban kita saat ini adalah memancing rasa ingin itu. Terkait dengan penelitian, perlu dirangsang rasa ingin tahu kita terhadap kebenaran suatu obyek. Kebenaran di sini, tentunya bukan kebenaran yang hakiki, namun hanya kebenaran ilmiah, yaitu kebenaran yang memenuhi kaidah-kaidah ilmu pengetahuan. Meskipun demikian, tetap saja ia subjektif. Namun dalam dunia penelitian, subyektivitas setelah melakukan prosedur ilmiah yang benar adalah subyektivitas yang bisa dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, sifat kebenarannya tetap disebut objektif.
Ahmad Kholil,
Sekretaris Unit Penelitian
Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Malang
Labels:
Opini
Subscribe to:
Posts (Atom)
