Pages

Saturday, March 10, 2012

Pengantar Sejarah Sastra Arab Zaman kekhalifahan Abbasiyah Pengantar Sejarah

Pada zaman kekhalifahan Abbasiyah, sastra dibagi menjadi pada dua kategori:
1.       Dimulai dari masa pembaitan Abi Abbas  Abdullah b. Muhammad b. Ali b. Abdullah b. Abbas 132 H sampai pada masa kekhalifahan Abi  Ja’far Harun (Al-Watsiq) 232 H.
2.       Semenjak khalifah Al –mutawakil  Alallah tahun 232 H hingga kekhalifahan Al-musta’shim billah dan hancurnya Baghdad oleh Tartar tahun 656 H.


Ada beberapa pendapat lain oleh para ahli sejarah mengenai pembagian sejarah kekhalifahan Abbasiyah menurut perkembangan sastranya, diantaranya :
1.       Masa pertama berakhir di tahun 232 H
2.        Masa kedua  berakhir tahun 334 H masa pemerintahan Bani Buwaihi dan runtuhnya Abbasiyah
3.       Dimulai tahun 334 H dan berakhir 656 H.


Pendapat lain menurut Dr. Syauqi Daif :
1.       Masa pemerintahan Abbasiyah pertama berakhir di tangan Al-Watsiq 232 H
2.       Masa pemerintahan Abbasiyah kedua berakhir dengan berkuasanya Bani Buwaihiyah. Dan adapun masa selanjutnya dinamakan dengan zaman Negara bagian dan persekutuan.


Kehidupan Politik dan Pengaruhnya pada Sastra:
Setelah berkuasanya Muhammad b. Ali b. Abdullah b. Abbas yang didihadiahkan oleh HAsyim b. Abdullah b. Muhammad b. Ali b. Abi Thalib  dengan syarat agar ia memindahkan kekuasaan ke tangan keluarga Ahli Bait setelah ini, namun Muhammad mengambil kesempatan ini untuk menyusun strategi kekuasaan bani Abbasiayah secara diam-diam dimulai dari Kuffah . Ia mewujudkan niatnya ini dengan beberapa sebab pendukung :
1.       Waktu yang tepat untuk dakwahnya,
2.       Dipilihnya daerah yang tepat jauh dari pusat jazirah Arab yaitu Khurasan
3.       BAni Abbasiyah memilih orang pilihan untuk memegang kekuasaan seperti Abu Salamah Alkhilal dan Abu Muslim Alkhurasany.

Daulah Bani Marwan (Umaiyah) adalah daulah orang Arab, sedangkan daulah Abbasiyah adalah daulah Ajamiyah Khurasaniyah (warga asing keturunan Khurasan). Dan pada dasarnya Daulah Abbasiyah ini sudah sedari awal terdiri dari berbagai macam golongan dan kepentingan di luar Arab. Hingga perebutan kekuasaan sudah menjadi biasa. Hingga pada akhirnya ekuasaan yang pada awalnya dipegang oleh Parsi, pindah ke tangan Turki. Akhirnya terbagilah kekuasaan bani Abbasiyah ini menjadi Negara Bagian (kecil) seperti di Mesir ada Daulah Ikhsyidiyah, Fatimiah dan Ayyubiyah, di Kurasan ada Daulah Samaniyah, di Afganistan dan India ada Daulah Gaznawiyah, dll.

Perpecahan ini walaupun membuat politik menjadi melemah namun secara tidak langsung membuat kekuatan sastra saat itu menjadi kuat dan maju oleh beberapa factor, diantaranya :
1.       Perlombaan diantara para pemimpin Negara kecil muluk dan umara dalam hal peradaban dan sastranya.
2.       Banyaknya pusat ilmu dan sastra, bukan hanya di Baghdad
3.       Diberi kesempatan bagi para penyair untuk mengadakan perjalanan sastra dalam mengumpulkan inspirasi
4.       Kedudukan para penyair dan sastrawan menjadi naik karena bahasa Arab yang pada saat itu adalah masa kebangkitan sastra dan syair khususnya.
5.       Sasra Arab terpengaruh unsure beberapa kebudayaan lain, seperti Parsi.
6.       Perpecahan Negara membuat para pemimpin berlomba memberikan hadiah kepada para penyair yang ahli untuk membantu syiar politiknya.


Kehidupan Sosial dan Sastra Masa Abbasiyah
Karena kekayaan yang berlimpah pada saat itu, terbagilah masyarakt menjadi beberapa tingkatan. Tingakatan para khalifah, menteri, pembesar tentara, dan para penyair seniman. Hingga para Khalifah berani memeberikan hadiah  besar pada para penyair ternama. Taraf kesejahteraan mereka Nampak dilihat dari  bangunan dan Istana yang dibangun seperti pembangunan kota Baghdad yang megah. Dari segi pakaian pun sangat mewah dan makanan berlimpah hingga waktu untuk bermain dan hura-hura semakin besar. Kebutuhan akan hiburan menjadi prioritas para penghuni istana mulai dari dayang-dayang hingga penyanyi istana yang menarik hati setiap lelaki, membuat taraf kehidupan menjadi hedonis.

Hedonisme
Telah menjadi hal yang biasa pada zaman ini jika ditemukan minuman keras di dalam kerajaan, maupun dalam masyarakatnya. Karena beberapa ijtihad para Ulama Iraq yang memproses beberapa anggur dan kurma yang dibuat khusus tidak memabukkan dan tidak melebihi batas haram. hingga masa Khalifah Amin, barulah melebihi batas.

Minuman keras ini mendorong pada hura-hura dan hedonism di zaman Abbasiyah yang dipenuhi oleh masyarakat Zindiq dan Majusi karena undang-undang yang membebaskan mereka, hingga para dayang dan penari Istana yang membuat kerusakan akhlak menjadi-jadi mendorong para penyair membuat syair yang berbau porno dan vulgar seperti Muthi’ b. Iyas dan Basyar. Bard.

Kafir Zindiq
Zindiq adalah Bahasa Parsi yang diarabkan, mencakup seluruh orang yang meniadakan Allah dan menadakan dosa dengan terang-terangan dan mereka tidak beriman pada hari akhir.

Parsi dahulunya sebelum masuk Islam menganut agama zoroatser yang muncul pada pertengahan abad ke 7 SM. Kitab sucinya Avista. Mereka mempercayai dua TUhan :baik dan buruk. Dan mereka juga memepercayai akhirat.
Di abad ke 3 M seorang pendakwah bernama Mani menyerukan kepada agama baru campuran Zoroatser, Budha, dan Kristen.
Di abad ke 5 M, muncul di Iran penyeru baru MAzdik yang percaya pada dua Tuhan dan pensucian terhadap api.
Oleh sebab itulah, banyak berkembang kafir zindiq dan menganggap enteng agama pada zaman ini, beberapa penyair yang dianggap bagian dari mereka seperti  : Basyar dan Abi Atahiyah serta Shaleh b. Abdulquddus.

Faktor Kesukuan
Selain di atas, ternyata masyarakat Abbasiyah zaman itu terkenal dengan kesukuannya yang mengedepankan Parsi  terhadap bagsa Arab. KArena pada zaman Umawiyah terlah terjadi pendiskriminasian bangsa non Arab, hingga saat ini dijadikan waktu yg tepat untuk balas dendam. Penyair terkemuka dalam kesukuan ini adalah Basyar.

Ke-zuhud-an

Adapun masyarakat awam di zaman Abbasiyah masih memegang prinsip agama yang kuat. Masjid di Baghdad masih dipenuhi oleh para hamba shaleh dan para pemberi nasehat, seperti Ibnu Nussak yang berani menasehati khalifah Harun Alrasyid. Dan pada zaman ini juga muncul awal ilmu Tasawuf di tangan pemuka seperti Ibrahim b. Adham dan Rabi’ah Aladawiyah.


Kehidupan Berkebudayaan
Masa  kekhalifahan Abbasiyah dianggap sebagai  kebangkitan kebudayaan dan sastra Arab. Banyak muncul para penyair, ulama dan penulis dari orang Parsi seperti Abi HAnifah, Sibawaih, Ibnu Almuqaffa, Basyar. Abi Nuwas dll. Sampai-sampai Ibnu Khaldun mengkhususkan sebuah bab dalam kitabnya Almuqaddimah bahwa pembawa ilmu dalam Islam itu kebanyaknya adalah orang asing (ajam).
Inilah beberapa factor kemajuan sastra saat itu :
1.       Islam selalu mendorong umatnya untuk berilmu dan beramal, dan para penguasa khalifah dan umara juga ikut andil.
2.       Adanya pasar-pasar seni sastra dan peranannya dalam perkembangan sastra, seperti pasar Mirbid dan Kinasah.
3.       Majlis para khalifah dan menteri  yang mnyerupai lapangan keilmuan tempat berkumpulnya para ulama
4.       Setelah meluasnya gerakan membuat buku dan menterjemah, berkembanglah perpustakaan seperti Darul Hikmah,
5.       Para khalifah selalu mendorong untuk menterjemah ilmu
6.       Masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah namun juga dimultifungsikan menjadi tempat ilmu bagi para remaja, tempat penyair bersenandung
7.       Sokongan para khalifah untuk para ulama berupa uang dan hadiah
8.       Penggunaan kertas pada zaman ini yang semakin mempermudah.

sejarah sastra arab

Sastra merupakan segala aktivitas manusia atau prilakunya, baik yang berbentuk verbal maupun fisik, yang berusaha dipahami oleh ilmu pengetahuan. Aktifitas itu berupa fakta manusia yang melahirkan aktivitas social tertentu, aktivitas politik tertentu, maupun kreasi cultural seperti filsafat, seni rupa, seni gerak, seni patung, seni music, seni sastra dan yang lainnya. Setiap kita hidup dan beraktivitas, kita tidak sadar bahwa sebenarnya dunia sastra sangat berkaitan erat dengan kita semua. Teuw pernah berpendapat bahwa sastra berada dalam urutan keempat setelah agama, filsafat, ilmu pengetahuan, sebagai disiplin ilmu ia menempati posisi keempat karena menurut hemat penulis ke empat bidang tersebut saling bertransformasi dan merugulasi diri (self regulating) bidang mereka masing masing. Pengaruhnya jelas terasa hingga saat ini dan bangsa Arab menyebutnya miratul haya sebagai cerminan kehidupan mereka, bukan hanya itu dengan bersastra ia akan mengetahui rekaman sejarah kehidupan mereka pada masa lalu.

Pada masa jahili (pra islam) sudah ada dan terdapat tradisi keilmuaan yang tinggi yakni bersyair dan penyair yang terkenal pada masa itu disebut dengan penyair mualaqat. Seluruh hasil karya dari kesepuluh orang penyair itu semunya dianggap hasil karya syair yang terbaik dari karya syair yang pernah dihasilkan oleh bangsa Arab. Hasil syair karya mereka terkenal dengan sebutan Muallaqat. Dinamakan muallaqat (kalung perhiasan) karena indahnya puisi-puisi tersebut menyerupai perhiasan yang dikalungkan oleh seorang wanita. Sedangkan secara umum muallaqat mempunyai arti yang tergantung, sebab hasil karya syair yang paling indah dimasa itu, pasti digantungkan di sisi Ka’bah sebagai penghormatan bagi penyair atas hasil karyanya. Dan dari dinding Ka’bah inilah nantinya masyarakat umum akan mengetahuinya secara meluas, hingga nama penyair itu akan dikenal oleh segenap bangsa Arab secara kaffah dan turun temurun. Karena bangsa Arab sangat gemar dan menaruh perhatian besar terhadap syair, terutama yang paling terkenal pada masa itu. Seluruh hasil karya syair digantungkan pada dinding Ka’bah selain dikenal dengan sebutan Muallaqat juga disebut Muzahabah yaitu syair ditulis dengan tinta emas. Sebab setiap syair yang baik sebelum digantungkan pada dinding Ka’bah ditulis dengan tinta emas terlebih dahulu sebagai penghormatan terhadap penyair.

Kendati pada masa ini disebut masa jahili (pra islam), tetapi mereka mempunyai kebudayaan tinggi. Bersyair merupakan sebuah karya yang sangat orisinil bangsa Arab pada masa itu menjadi sumber hukum yang pertama. Baru setelah datangnya masa Islam semua itu berobah total. Islam sebagai rahmatan lil alamin dengan quran dan hadis sebagai sumber hukumnya, menyeru kepada kebaikan, menghormati sesama jenis, saling mencintai dan saling mengenal, yang bertitik beratkan kepada aspek moral yakni makarimal akhlak. Dari masa Rasuluah, Khufahurasidin, sampai keruntuhan Abasiah akibat ekspedisi Hulagukhan dengan berimbas berdirinya kerajaan mamluk di Turki (Konstantinopel) sastra Arab masih tetap bertahan kendati mengalami pasang surut pada dinasti keruntuhan Abasiah dan mamluk.

Setelah hampir lima abad berada dalam masa surut bahkan keterpurukan di berbagai bidang, maka pada akhir abad ke-18 M bangsa Arab mulai memasuki fase sejarah “kesadaran dan kebangkitan.” Kesadaran ini semakin mendapat energinya setelah mereka bersentuhan dengan kebudayaan Barat melalui ekspedisi Napoleon Bonaparte ke Mesir pada tahun 1798. Kesadaran dan tambahan energi itu lantas diimplementasikan di masa Muhammad Ali dengan cara mengirimkan banyak sarjana ke Barat. Penerjemahan berbagai karya asing Barat, baik tentang kesusastraan atau ilmu pengetahuan lainnya digalakkan dengan motor Rifa’ah Rafi’ al Tahtawy (1801-1873 M). Banyak percetakan dan penerbitan majalah atau surat kabar muncul. Dalam kondisi penuh semangat pembaharuan ini, kesusastraan Arab merangkak bangkit. Era baru kesusastraan modern pun dimulai.Baru pada masa modern ini sastra Arab mulai berkembang karena girah dan kesadaran akan pentingnya khazanah peradaban yang di pelopori oleh Al-Barudi, Khalil Mutaran Ahmad Syauki dkk. Pada masa ini sudah terjadi transformasi intelektual dengan berpuncak pada revolusi Mesir.

sejarah sastra arab

Sastra Arab

Kata sastra, bahasa Arabnya adalah : "al-Adab"

Sedangkan menurut bahasa Arab, makna kata "al-Adab" dua : yaitu makna secara khusus dan umum.

Makna "al-Adab" secara umum adalah : "Berperilaku dengan akhlak karimah". Seperti jujur, dan amanat. Adapun maknanya secara khusus adalah : "Ucapan yang indah, yang menyentuh (perasaan), dan memberi pengaruh pada jiwa.

Syarat suatu ucapan masuk dalam kategori adab dengan makna khusus ini adalah:
o Lafadh-lafadhnya mudah dan indah.
o Maknanya bagus.
o Memberi pengaruh dalam jiwa.

Macam sastra Arab :

Sastra Arab ada dua macam (bentuk) :

Pertama : "Natsr"

Natsr adalah : "Ucap`n Indah yang tidak terdapat wazn (aturan dalam membuat syair) dan Al Qhaafiyah. (Para ulama ahli bahasa berselisih pendapat tentang arti Al Qhaafiyah. Al Khalil dan Abu Amru dan Al jurumi mendefinisikan Al Qhaafiyah : "Dua huruf yang disukun dalam kata akhir suatu bait syair, dan diantara dua huruf yang disukun tersebut terdapat huruf-huruf , disertai dengan harakat pada huruf (yang terletak) sebelum kedua huruf yang disukun tersebut. Sedangkan Al Aqfas berpendapat Al Qhaafiyah adalah : "Kata yang terakhir dari bait syair". Dan definisi yang dikemukakan Aqfas paling mudah, sedangkan definisi yang dikemukakan Al Khalil (dan yang berpendapat sepeti dia) paling benar. Lihat kitab : "al-Kaamil fil arudl wak Qowafi" karangan Muhammad Qonawi)

Termasuk dalam kategori ini : "Khutbah, surat, wasiat, hikmah, perumpamaan, dan kisah.

Kedua : Syair
Syair adalah : "Ucapan yang didalamnya terdapat wazn dan Qhaafiyah.

Seperti ucapan :

"Ta'allam falaisal mar-u yuuladu aaliman"

"Walaisa akhu ilmin kaman huwa jahilu"

(lihat teks Arabnya dalam majalah adz-Dzakhirrah edisi 5)



"Belajarlah, karena tidaklah seseorang itu dilahirkan dalam keadaan berilmu"
"Dan tidaklah sama orang yang berilmu dengan orang yang bodoh"


Dan syair dalam bahasa Arab ada bermacam-macam bentuk, ada yang berbentuk mensifati, memuji, celaan, ratapan dan ada juga yang berbentuk ungkapan hikmah.


Pembagian masa sastra Arab

Ahli sejarah dan sastra telah membagi zaman sastra Arab menjadi enam masa :

1. Masa jahiliyah 
"Masa sekitar 200 atau 150 tahun sebelum permulaan Islam, dan berakhirnya masa ini dengan datangnya agama Islam".

2. Masa permulaan Islam

Dimulai pada masa munculnya agama Islam (di Mekkah), dan berakhir dengan berakhirnya masa kekhalifahan Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar bin Khatthab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib radhiyallahu anhum) pada tahun 40 hijriyah.

3. Masa Umawiyyah

Dimulai dengan berdirinya Daulah Umawiyah tahun 40 hijriyah, dan berakhir dengan jatuhnya dinasti ini pada tahun 132 hijriyah.

4. Masa Abasiyyah
Dimulai dengan berdirinya Daulah Abasiyah tahun 132 hijriyah, dan berakhir dengan penyerbuan Mongolia ke negeri Baghdhad tahun 656 hijriyah.

5. Masa Pertengahan

Masa ini meliputi dua dinasti, yaitu Dinasti Mamluki dan Ustmani. Dimulai pada tahun 656 Hijriyyah, dan berakhir dengan berakhirnya hukum Utsmani di negeri-negeri Arab pada permulaan abad 13 hijriyah, dan munculnya gerakan-gerakan perbaikan di sejumlah negeri Arab.

6. Masa Modern

Dimulai dengan munculnya gerakan-gerakan perbaikan di sejumlah negeri Arab, dan bersamaan dengan permulaan abad 13 hijriyah (1900 Masehi) hingga saat ini.
Permulaan setiap masa dan berakhirnya sastra Arab ini, tidaklah ditentukan secara detail. Ditentukan hanyalah dari penentuan secara perkiraan. Sejarah ini dibuat untuk mengetahui perubahan yang terjadi


Contoh Natsr : dalam bentuk khutbah (lihat teks arabnya dalam majalah adz-Dzakhirrah edisi 5)


Khutbah Abu Bakar Ash Shiddiq ketika menjadi khalifah

Sesudah meninggalnya Rasulullah , kaum muslimin memilih Abu Bakar Ash Shiddiq untuk menjadi khalifah, karena keutamaan dan kedudukannya dalam Islam. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah orang yang pertama kali beriman kepada Rasulullah dari kalangan laki-laki, beliau adalah orang yang menemani Rasulullah dalam gua (ketika bersembunyi dari kejaran orang kafir), dan beliau adalah seorang yang menemani Rasulullah hijrah dari Makkah ke Madinah. Dan Rasulullah memerintahkan kepada Abu Bakar (ketika Rasulullah sakit) untuk menjadi imam kaum muslimin. Dan ketika Abu bakar menjadi khalifah ia berkhutbah kepada manusia. Ia memulai khuthbahnya dengan ucapan tahmid (memuji kepada Allah ) lalu berkata :

(Teks bahasa Arab )

Terjemahannya :


"Wahai manusia kalian telah menjadikanku sebagai khalifah, dan kalian telah membebaniku dengan suatu perkara padahal aku bukanlah orang yang termulia di antara kalian, maka jika kalian melihatku berada di atas kebenaran bantulah aku, dan jika kalian melihatku berjalan di atas jalan kesesatan maka tunjukilah aku kepada kebenaran, dan hendaklah kalian taat kepadaku selama aku taat kepada Allah ". Dan jika aku durhaka kepada Allah dan perintahku menyelisihi perintah Allah maka janganlah mentaatiku".

"Ingatlah (sesungguhnya) ukuran kuat dan lemah menurutku adalah kebenaran. Orang yang berada di atas kebenaran adalah orang kuat walaupun ia orang yang lemah hingga aku mengambilkan untuknya kebenaran, dan orang yang berada dalam kebatilan adalah lemah walaupun ia kuat hingga aku mengambil darinya kebenaran (yang ia rampas)".

"Inilah perkataanku, dan aku mohon ampunan bagi diriku dan bagi kalian".