Pages

Tuesday, January 11, 2011

Ahmad Syauqi (Kasidah)

      Tulisan ini merupakan sebuah makalah yang saya susun ketika mengontrak mata kuliah Nusus Adab, di dalam pembahasannya hanya merupakan sebuah kritik syair dari sastrawan modern Mesir Ahmad Syauqi, yang beraliran neoklasik. mudah-mudahan bermanfaat.


 
A.   Pendahuluan
  
Tidak diragukan lagi,  pesawat terbang merupakan bukti dari sebuah kemajuan dan peradaban. Karena bisa mendekatkan sebuah jarak, dan menghubungkan antar dunia. Dan memfasilitasi perpindahan dari suatu perjalanan lama, jauh dimana bayak orang merasa lelah,  sekarang dengan adanya penemuan pesawat, bisa memberikan kenyamanan, rekreasi, ilmu pengetahuan, memberikan pelayanan, serta pertolongan.
Seorang penyair Ahmad Syauqi, di dalam kasidahnya membicarakan tentang pesawat.  Dan mengisyaratkan bahwa apa, jika pesawat ini ada di masa lalu, maka manusia akan menganggapnya sebagai suatu  keajaiban. Dan pesawaakan tamapak indah, apabila terbang di angkasa  Atau ketika mendarat di permukaan bumi.  Memberikan rasa takut  di dalam hati manusia.  Sebagian dari mereka berani sebelum takut. Dan jika ia menyerupai burung, maka di  kedua sayap nya bukan lah bulu, namun terbuat baja lunak, dan terbang dengan kekuatan uap.
Ketika terbang di langit, nampak bagaikan bintang yang memiliki ekor. Dan apabila meluncur  tampak bagaikan busur panar yang didorong dengan kuat. Dan ketika turun ke bumi, bentuknya tampak gagah, dan mengagumkan, dan  balutannya bagaikan burung merak yang menajubkan, dan warna bulu yang indah.   Suaranya menakutkan,  menghembuskan angin, bagaikan suara jin  yang menyampaikan berita  penduduk  bumi untuk penghuni langit.

           B. Naskah
مَرْكَبٌ لَوْ سَلَـفَ اَلدَّهْرُ  بهِ
كَانَ إحدَى مُعْجزَاتِ  الْقُدَمَـاءْ

نِصْفُهُ طَـيْرٌ  وَنِصْـفٌ بَشَرٌ
يَالَهَا إِحْدَى أَعاجيِبِ  الْقَضَـاءْ

رَائِـع ، مُـرْتفعاً  أَو  واقِفاً
أَنْفُسَ الشُّجْعانِ قَبْـل  الجُبَنَـاء

حَمَلَ الفُولاذَ ريشاً وَجَـرَى
فِي عِنَـانْين لَهُ: نــارٍ وَمَـاءْ

وَجَنَاحٍ ، غَيْرِ ذِي   قَادِمَـةٍ
كَجَنَاحِ النَّحْلِ مَصْقُـولٍ  سَوَاءْ

يَتَـرَاءَى كَـوْكَباً  ذَا ذَنَبٍ
فَـإِذَا جَـدَّ فَسَهْمًا ذَا  مَضَـاءْ

فَإذَا جَـازَ الثُّـرَيَّا للِـثرَى
جَرً كَالطَاووسِ  ذَيْلَ   الْخُيَـلاءْ

يَمْلأ اَلآفاقَ صَوْتاً وَصَـدًى
كَعَزيفِ اَلْجِنِّ في  اَلأرْضِ  اَلْعَرَاءْ

أَرْسَلَتْهُ الأرْضُ عَنْهَا خَبَـراً
طَـنَّ فِي  آذَانِ  سُكَّانِ  السَّماءْ

1.      Sebuah kendaraan jika datang  masa terdahulu, merupakan suatu keajaiban masa lampau
2.      Setengahnya burung, dan setengah lagi manusia. Hai pemilik suatu keajaiban taqdir
3.      Menakutkan, tinggi, tegak, terhadap jiwa-jiwa pemberani sebelum takut.
4.      Sang burung memikul baja terbang di awan, dia memiliki air dan api
5.      Sayap tak berbulu, seumpama sayap lebah yang terang.
6.      Dan tampak bagaikan bintang yang berekor, dan apabila bergerak. Maka tampaklah terang.
7.      Dan jika melintasi kumpulan bintang di langit, akan menyebabkan heran, bagai ekor burung merak yang membesar.
8.      Suaranya mengisi cakrawala, dan hembusannya bagaikan suara jin di bumi yang terbuka.
9.      Bumi mengirimkan sebuah berita sehingga tersa bising ditelinga penghuni langit.


      C. Penjelasan Kata / Syarhul kalimah

الكلمة
شرحها
سلف الدهر به
: جاء به الزمن السالف الماضي. المعجزة : أمر لا يقدر على عمله أحد في العادة.
رائع
: مخيف. أنفس : جمع نفس.
الفولاذ
: الحديد الصلب. العِنان : اللجام للفرس.
القادمة
: هي واحدة القوادم أي الريشات التي في مقدم الجناح وهي كبار الريش.
يتراءى
: يظهر ويرى. ذنب : ذيل. جَدَّ: أسرع. مضاء : سرعة واندفاع.
جاز
: ترك. الثريا : مجموعة من الكواكب في السماء. الثرى: التراب ويريد الأرض. الخيلاء : الكبر والعجب.
الصدى
: رجع الصوت. عزيف: صوت. العراء: الخالية من كل ما يستتر به.
طَنَّ
: أحدث صوتاً.

     
        D.  Analisis Sastra / Tahlilul Adab
Beberapa tokokah mengemukakan bahwa kritik sastra atas dua macan, sebagaimana dikemukakan oleh Thaha Husein, kritik dibagi menjadi dua,
Peratama,. نقد الذات (subyektif) yang terdiri dari dua unsur Impresionistik, dan  Ekspresionistik. Dan yang kedua, نقد الموضوع (obyektif) yang terdiri dari dua unsur, Intrinsik dan ekstrinsik. Dalam tulisan ini pen ulisakan mencoba melakukan kritik sastra dengan menggunakan model yang kedua yaitu kritik objektif.

1.  Unsur Ekstrinsik     
 Sekilas berbicara tentang Ahmad syauqi, lahir pada 1870. Setelah menamatkan Pendidikan Dasar dan Menengahnya, lalu ia melanjutkan studi di Fakultas hukum, kemudian pindah ke “fakultas Tarjamah” sehingga mendapatkan ijazah dalam bidang Seni Terjemah. Kemudian Syauqi melanjutkan studinya di Perancis untuk memperdalam ilmu hukum dan sastra Perancis. Di Perancis Syauqi mulai bersentuhan dengan sastra dan para sastrawan Eropa khususnya sastra Perancis. 
Pada tahun 1894 Syauqi kembali ke Mesir. Wawasan dan pengetahuan Syauqi juga semakin bertambah saat ia habiskan empat tahun berkelana di Perancis, ia semakin menguasai bahasa Perancis dan Turki sekaligus. Akibat campur tangan Inggris, pada saat Perang Dunia I meletus Syauqi dan para pejabat istana lainnya diasingkan ke Andalusia (Spanyol). Di pengasingan inilah Syauqi dicekam kesendirian dan kerinduan akan tanah airnya yang kemudian dituangkan ke dalam syair-syairnya. Ahmad syauqi merupakan salah seorang penyair abad 19 aliran pembaharu Neoklasik, aliran yang dipelopori oleh Mahmud Samiy al Badrudi, aliran ini berusaha menganggkat syair-syair klasik. 
Secara global tema-tema yang diusung syair Syauqi terbagi dua; Pertama tema-tema “kuno” mengikuti jejak para sastrawan klasik, tema ini diantaranya adalah al-madh (sanjungan), al-fakher (kebanggan), al-ghozal (rayuan), al-rosta (belasungkawa) dan al-Hikmah (kata-kata bijak) serta tema-tema lain yang berkaitan dengan etika dan estetika.   
 Tema-tema kontemporer yang tidak dapat dijumpai pada syair klasik. diantara tema-tema baru tersebut adalah sejarah, sosial, fukahah (Anekdot). Lalu syair Drama. Ketika itu belum ada penyair yang memperkenalkan bentuk baru ini dalam sastra Arab, namun ternyata Syauqi berhasil membuat terobosan baru tersebut. Naskah drama yang dikemas dalam bentuk syair baru dikenal Arab di zaman modern ini, dan Syauqi adalah pelopornya. Usai Perang Dunia reda, Syauqi kembali ke tanah airnya mengabdikan diri kepada bangsa dan negaranya terutama dalam bidang sastra sampai menghembuskan napas terakhir pada 13 Oktober 1932. 

           2. Unsur Instrinsik
Syair-syair di atas, apa bila ditinjau dari segi jumlahnya merupakan sebuah Qosidah, karena terdiri dari sembilai bait. Sedangkan sarat untuk sebuah qosidah ialah tujuh bait, ke atas (Zaenudin, 2007: 24).
Untuk tema dari syair di atas adalah Al-wasfi, menurut Muzzaki, A (2006: 88) merupakan sebuah tema yang berusaha mendeskripsikan tentang keadaan tentang sesuatu, di dalam qosidah di atas penyair berusaha mendeskrifsikan sebuah pesawat, yang merupakan sebuah hasil dari sebuah peadaban, dan perkembangan jaman. Di dalam qosidahnya, Ahmad Syauqi mendeskripsikan keidahan bentuk pesawat. Serta kegagahannya.
Teknin penulisan kata yang dilakukan oleh Ahmad Syauqi, yang pertama Keindahan lafad dapat dibuktikan dengan penggunaan saja, saja  yang terdapat pada shodar bait ke dua yaitu,
نِصْفُهُ طَـيْرٌ  وَنِصْـفٌ بَشَرٌ
Terdapat persesuaian antara dua akhir kata  pada hruf akhirnya, yaitu thoirun, dan basyarun.dalam jenis saja’ di sini merupakan model al-Mutharaf, persamaan bunyi akhir lafad, dan perbedaan lafad.
Fenomena ini ter terjadi pula pada bait ke enam kedua lafat yang terdapat pada shodar dan  a’jaz, yaitu
يَتَـرَاءَى كَـوْكَباً  ذَا ذَنَبٍ
فَـإِذَا جَـدَّ فَسَهْمًا ذَا  مَضَـاءْ
Keterpaduan antara dua bunyi kaukaaban, dan bunyi fasahman. Merupakan keindahan struktur lafad yang di lakukan oleh penyair.
Lalu yang kedua ialah teknik berbahasa, penggunaan gaya bahasa atau ushlub pada kasidah di atas terjadi di beberapa bait, seperti penggunaan tasybih mujmal yaitu yang dibuang wajh syibh-nya pada bait kelima, yaitu:
وَجَنَاحٍ ، غَيْرِ ذِي   قَادِمَـةٍ
كَجَنَاحِ النَّحْلِ مَصْقُـولٍ  سَوَاءْ
Pada bait di atas terdapat penyerupaan antara sayap pesawat terbang yang indah, dengan sayap seekor lebah yang dipoles. Tujuan dari penggunaan tasybih yang dilakukan oleh Ahmad Syauqi ialah menjelaskan kadar musyabah yaitu keindahan sayap pesawat.
Penggunaan tasbih terdapat pula pada bait ke tujuh,
فَإذَا جَـازَ الثُّـرَيَّا للِـثرَى
جَرً كَالطَاووسِ  ذَيْلَ   الْخُيَـلاءْ
Penggunaan tasybih mujmal pada bait di atas, ialah menjelaskan kan kadar misyabah bih, yaitu kadar keindahan peswat ketika terbang sebagai sesuatu yang diserupakan dengan ekor burung merak ketika terbuka. Lalu pada bait kedelapan terdapat penggunaan tasybih mujmal,yaitu:
يَمْلأ اَلآفاقَ صَوْتاً وَصَـدًى
كَعَزيفِ اَلْجِنِّ في  اَلأرْضِ  اَلْعَرَاءْ
 Pada bait di atas, Ahmad Syauqi menggunakan tasybih mujmal pada bait di atas, ialah menjelaskan kan kadar misyabah yaitu kekuatan, atau kerasnya suara pesawa terbang, kemudian diumpamakan dengan kerasnya suara jin.
Jadi dengan demikian Ahmad Syauqi memberikan sebuah deskripsi keindahan sebuah sayap, lalu keadaan pesawa ketika terbang di angkasa dan kekuatan suara atau kebisingan suara pesawat terbang, menggunakan tasybih dengan perumpamaan-perumpamaanya memberikan kejelasan makna.
            Lalu gaya bahasa yang dilakukan oleh Ahmad Syauqi ialah penggunaan majaz   isti’aroh makanniyah yang terdapat pada bait kesembilan,
أَرْسَلَتْهُ الأرْضُ عَنْهَا خَبَـراً
طَـنَّ فِي  آذَانِ  سُكَّانِ  السَّماءْ
Pada syair di atas kita menemukan kata  خَبَـراً  dan  آذَانِ  sebuah berita, dan telinga, ada sebuah kelajiman penyaamaan antara berita dan telinga, namun berita hanya cukup untuk diketahui, dan tidak membuat bising telinga. Jadi di dalam syair di atas terdapat kelajiman yaitu kata suara digantikan dengan berita.
                        Keindahan makna terdapat pada a’jaz bait kedua, yakni penggunaan huruf
            Nida yaitu,
يَالَهَا إِحْدَى أَعاجيِبِ  الْقَضَـاءْ

Penggunaan nida pada a’jaz  di atas menunjukan serta mendeskripsikan kekaguman serta keheranan sang penyair terhadap pesawat.
Lalu pengulangan kata,

نِصْفُهُ طَـيْرٌ  وَنِصْـفٌ  بَشَرٌ
Pengulangan kata nisfu yakni sebagai ithnab penambahan kata nisfu, yakni untuk menjelaskan maksud. Bahwa yang dideskripsikan oleh penulis ialah sebuah pesawat.









E. Daftar Pustaka


Jasmadi. (2010). Mengenal Sastra Arab. [Online]. Terlihat:
`http://sastraarabmodern.blogspot.com. (Diakses 20 Agustus 2010)
Munawwir, A. W. (2002). Kamus Al- Munawwir Arab-Indonesia Lengkap.
Surabaya: Pustaka Progresif.
Muzaki , A. (2006).Kesusastraan Arab Pengantar Teori dan Terapan
Surabaya: Pustaka Progresif.

Zaenudin, M. (2007). Karakteristik Syair Arab. Bandung: Zein Al Bayan
Zaenudin, M. Nurbayan, Y. (2007). Pengantar Ilmu Ma’ani. Bandung:
Zein Al Bayan.
______________(2006). Pengantar Ilmu Bayan. Bandung: Zein Al Bayan.


Tuesday, November 2, 2010

pray for Indonesia


Solidaritas Mahasiswa
Bencana yang meluluhlantakkan negeri  tercinta ini, mulai dari ujung pulau timur Papua, banjir bandang Wasior, gempa dan tsunami di Mentawai dan yang terbaru bencana meletusnya gunung merapi di Jawa Tengah. Simpati masyarakat terhadap korban begitu besar, penggalangan dana dengan berbagai cara dilakukan untuk membantu para korban sebagai bentuk rasa belasungkawa atas bencana yang terjadi.
Mahasiswa di kota Malang rela turun ke jalan, dengan menenteng kardus bertuliskan” Sumbangan buat Korban Bencana, berpanas-panas ria dilakukan untuk menarik simpati masyarakat agar ikut membantu mendonasikan sebagian harta buat para korban bencana, semua usaha yang telah dilakukan mahasiswa tanpa memandang latar belakang organisasi mereka,sungguh  sangat mulia.
Para pengguna jalan tidak merasa terganggu dengan kegiatan penarikan  sumbangan ini, banyak pengendara antusias untuk turut berpartisipasi membantu para korban, dengan ini para pengguna jalan mendapatkan kemudahan karena menghemat waktu mereka. Toh akhirnya mereka juga dapat membantu tanpa harus bersusah payah pergi ke daerah bencana.
Lebih dari itu, tidak sedikit mahasiswa yang langsung menyingsingkan lengan baju mereka, dengan menjadi relawan di daerah bencana, bahu membahu menolong para korban, walau mereka harus rela meninggalkan bangku kuliah demi misi kemanusiaan, akankah mereka menyesal dengan hal itu?ternyata tidak sedikit dari para mahasiswa yang menjadi relawan bangga dengan apa yang telah mereka lakukan, pengorbanan mereka  terbayarkan dengan rasa bangga atas sesuatu kebaikan yang telah mereka kerjakan di sana.membantu para korban secara langsung menjadi pengalaman yang langka dan mengesankan, walaupun suka duka mereka emban selama bertugas.
Semua usaha yang dilakukan mahasiswa ini tak lain adalah sebagai bentuk rasa tanggung jawab mereka akan nasib bangsa ini, mahasiswa sebagai Agent Of Change juga harus peka terhadap masalah sosial, sebagai penerus bangsa ini di masa depan .
Pada umumnya mahasiswa memiliki citra negatif dimasyarakat, sebagai tukang demo, pembuat onar atau mengganggu ketertiban umum, dengan aksi solidaritas ini masyarakat bisa mengerti, mahasiswa memiliki rasa kepekaan sosial yang tinggi sehingga dengan hal ini bisa memperbaiki citra mahasiswa di mata masyarakat.
Peran serta pemuda bangsa, sebagaimana yang dilakukan mahasiswa sangatlah berpengaruh terhadap kemajuan bangsa di masa yang akan datang, betapa kuat rasa solidaritas yang mereka tunjukkan, hal ini semakin mengokohkan semangat persatuan yang tertuang dalam butir-butir pancasila.
Bencana yang menghantam bangsa tercinta menjadi sebuah pengalaman berharga, tidakkah kita bersyukur hal itu tidak menimpa  kita, kepedulian kita yang tinggi untuk membantu mereka, para korban bencana yang membutuhkan uluran tangan dermawan kita, sementara masih banyak dari kita yang acuh dan tidak peduli dengan hal itu.
Semoga para korban diberikan ketabahan atas bencana yang menimpa mereka,  dan juga masyarakat Indonesia bisa memetik hikmah dan pelajaran dari bencana ini, bahwasannya tidak ada yang abadi, semua akan kembali kepada sang Pencipta.





Friday, July 9, 2010

lingkaran kasih

saat jauh menjalar di hari-harimu
gundahpun berontak mengekangmu
khawatir hati ini
kau....
apa yang kubisa perbuat
rasa ini seolah memburu
menanti kabar burung tentangmu
melayang ...terbang pikiran ini
terbawa angin bersamamu